John Pierce, Tokoh Di Balik Kehebohan Dunia Elektronika Saat Ini


Kita semua pasti setuju kalau perangkat elektronik saat ini semakin compact bahkan terintegrasi dengan berbagai fitur/fungsi dalam satu perangkat. Contoh yang sangat dekat dengan kita adalah smartphone yang kita miliki saat ini. Dalam satu perangkat smartphone yang kita genggam saat ini, setidaknya ada 10 fitur dasar yang dimiliki, yaitu telepon (untuk layanan suara), pager (untuk layanan text), modem (untuk layanan data), jam, radio, kalkulator, kamera, GPS, walkman/tape dan komputer. Bahkan untuk smartphone dengan merek tertentu, sudah dilengkapi pula dengan fitur-fitur terkait kesehatan tubuh. Seorang teman dekat saya berseloroh, “kalau ada mesin waktu dan smartphone ini dikirim kembali ke tahun 70an, pasti orang-orang pada zaman itu anggap smartphone seperti kantong doraemon yang segala ada dalam satu kantong.” Teman saya ini juga mengulang perkataan orang lain “lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan smartphone” karena banyaknya fitur yang ada dalam satu unit perangkat smartphone kita.

Tapi, jarang yang mengetahui bahwa perjalanan evolusi smartphone ini sangat panjang. Kalau kita tarik mundur waktu, setidaknya akan tiba pada tahun 1948 ketika sebuah perangkat amplifier berbasis solid-state ditemukan pertama kali oleh tim yang disupervisi oleh John Pierce di Bell Labs. Saat itu, Walter Brattain sang perancang komponen kesulitan untuk memberi nama komponen yang dia rancang. Walter bertanya hampir ke semua staf di Bell Labs tentang nama yang tepat untuk komponennya tersebut. Nama yang mewakili setiap fitur yang ada dalam komponen tersebut. Dan akhirnya dia bertanya kepada John Pierce tentang nama tersebut, John akhirnya memberi nama komponen tersebut “Transistor”. Alasan John memberi nama tersebut dipaparkan dalam sebuah wawancara tentang “Transistorized”. Dalam wawancara itu, John berkata,

“The way I provided the name, was to think of what the device did.  And at that time, it was supposed to be the dual of the vacuum tube.  The vacuum tube had transconductance, so the transistor would have ‘transresistance.’ And the name should fit in with the names of other devices, such as varistor and thermistor.  And. . . I suggested the name ‘transistor.'”

Sumber: wikipedia

John Pirece adalah seorang ilmuwan kelahiran Iowa pada tahun 1910. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Caltech, dia bergabung dengan Bell Labs pada tahun 1937. Bersama dengan Barney Oliver and Claude Shannon, John mengembangkan Pulse Code Modulation (PCM) sebuah mekanisme pengkodean informasi yang dapat mengubah informasi analog menjadi digital. Teknologi ini pulalah yang mendorong perkembangan teknologi yang awalnya bersifat analog menjadi digital, seperti yang kita kenal saat ini. Bersama kedua koleganya tersebut, John berhasil pula memperoleh paten atas rancangannya tersebut pada tahun 1948, yang kemudian dipublikasi dalam sebuah makalah berjudul “The Philosophy of PCM“.

Selain mengembangkan teknik PCM tersebut, John juga berhasil merancang dan meluncurkan satelit komunikasi pertama pada tahun 1945. Sehingga John juga dijuluki sebagai “the fathers of the communication satellite”, karena bukan hanya merancang dan mengembangkan, tapi juga memproduksinya dan meluncurkan.

Atas kontribusinya dalam bidang elektronik dan komunikasi tersebut, berbagai penghargaan diperoleh oleh John, di antaranya IEEE Medal of Honor (1975) dan Marconi Prize (1979)

Referensi:

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Scientist, Teknologi dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s