Merantau menjadikan orang lebih bijak


Sejak kedatangan saya di Austria pada Oktober 2015, peringatan Maulud Nabi Muhammad saw di KBRI Wina, Austria, pada awal Januari 2016 lalu merupakan momen pertama bagi saya untuk dapat bertegur sapa atau bersilaturahmi dengan Masyarakat Muslim Indonesia di Austria. Pada saat itu, ustadz pemateri mencuplik sedikit kata mutiara dari Imam Syafi’i yang intinya berbunyi, “Merantaulah kalian, maka kebijaksaan diri akan kalian peroleh.”

Penasaran dengan nukilan kata mutiara tersebut, ditambah ada suatu kejadian yang mengingatkan kembali tentang kata mutiara tersebut, maka berselancarlah saya di dunia maya sehingga menemukan bahwa hal tersebut merupakan syair yang digubah oleh Imam Syafi’i. Berikut adalah syair lengkap tersebut.

MERANTAULAH
(Syair Imam Asy-Syafi’i)

Orang pandai dan beradab
tak ‘kan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih jika tidak, dia ‘kan keruh menggenang

Singa tak ‘kan pernah
memangsa jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika
tidak tinggalkan busur tak ‘kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam, 
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman, 
Orang-orang tak ‘kan menunggu saat munculnya
datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang

Setelah diolah dan ditambang manusia ramai
memperebutkan 

Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan

Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas

Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39

DSC_0584(comp)

Cukup masuk akal syair dari Imam Syafi’i ini. Berdasarkan pengalaman “mengembara” yang pernah dilakukan, memang ada banyak manfaat dari perantauan ini. Di antaranya adalah terbukanya wawasan kita mengenai pola pikir dan perilaku sosial kemasyarakatan di wilayah tersebut. Dengan berbekal pengalaman tersebut menjadi kita lebih bijak dalam menghadapi suatu fenomena. Dan yang terpenting adalah kita dapat mengambil hal-hal positif darinya untuk diadaptasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dan tiba-tiba juga teringat candaan seorang pejabat publik terhadap orang-orang kurang bijak dalam menghadapi suatu kondisi, “ari kamu perlu piknik” 🙂

Semoga saya dan keturunan saya kelak termasuk golongan orang-orang yang cerdas dan bijak, serta mampu mengambil hikmah dari setiap perjalanan waktu yang dilaluinya.

#CatatanPerjalanan #Austria #

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Jejak Austria. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s