Polemik Jumlah SKS Kuliah S2 di Indonesia


Ini merupakan salinan tulisan saya yang ada di FB saya. Sengaja saya tulis juga di sini agar bisa menjadi salah satu persfekti lain dalam menanggapi terbitnya Peraturan Menteri No. 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Salah satu polemik yang muncul dari keluarnya Permen ini adalah mengenai jumlah SKS program Magister yang naik menjadi dua kali lipat dari 36 SKS menjadi 72 SKS.

Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan sebuah aturan tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang tertuang di dalam Peraturan Menteri No. 49 Tahun 2014. Terbitnya aturan tsb, ternyata menimbulkan gonjang-ganjing di jagat Pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah perubahan jumlah SKS beban kuliah Magister di Indonesia yang naik menjadi 2 kali lipat, dari 36 SKS menjadi 72 SKS. Dengan adanya perubahan tsb, sampai-sampai ada yang berseloroh, “kalau begini, mending sekolah di Luar Negeri aja deh…” Saya pribadi agak sedih dengan selorohan tsb dan menyayangkan jika benar berniat sekolah di luar negeri hanya karena jumlah beban SKS yang bertambah menjadi 2 kali lipat. Mungkin ybs belum mengetahui bahwa jumlah kredit kuliah S2 di salah satu PT di Eropa adalah 120 kredit.

Akibat gonjang-ganjing tsb, Ditjen Dikti akhirnya mengeluarkan surat edaran yang menjelaskan rincian distribusi jumlah SKS tsb, salah satunya untuk program master sebagai berikut

– Perkuliahan : ±32 sks
– Proposal Thesis : ± 5 sks
– Penelitian dan Penulisan Thesis : ±20 sks
– Seminar : ± 5 sks
– Karya Ilmiah : ±10 sks

Dari rincian tsb, diperoleh informasi bahwa total SKS perkuliahan adalah 32 SKS dan Penelitian (Thesis) akumulatif 40 SKS. Karena ada gonjang-ganjing ttg jumlah SKS tsb, saya akan coba membandingkan dengan kurikulum S2 di TU Delft, Belanda tempat saya kuliah dulu. Di sana memiliki jumlah kredit 120 ECTS dengan jumlah akumulatif perkuliahan 75 ECTS dan akumulatif jumlah penelitian adalah 45 ECTS.

Mungkin ada juga yang membandingkan jam kerja setiap tahunnya untuk mahasiswa S2 di Indonesia dan Luar Negeri dalam hal ini Belanda.

Baiklah, Mari kita hitung satu per satu..

Jam kerja mahasiswa S2 di Belanda
Sesuai dengan aturan di Belanda bahwa beban kerja mahasiswa full-time program gelar adalah 1680 jam per tahun. Satu 1 kredit di sana (ECTS) setara dengan 28 jam kerja (Beban kredit kuliah di sana adalah 60 ECTS/tahun). Hal tsb diisi dengan pelaksanaan kuliah, diskusi, belajar mandiri dan ujian.

Jam Kerja mahasiswa S2 di Indonesia
Sesuai dengan peraturan tsb pasal 15 ayat (2) disebutkan bahwa Satu sks setara dengan 160 (seratus enam puluh) menit kegiatan belajar per minggu per semester, atau Pasal 17 ayat (1) yang menyebutkan bahwa Beban normal belajar mahasiswa adalah 8 (delapan) jam per hari atau 48 (empat puluh delapan) jam per minggu setara dengan 18 (delapan belas) sks per semester, sampai dengan 9 (sembilan) jam per hari atau 54 (lima puluh empat) jam per minggu setara dengan 20 (dua puluh) sks per semester. Maka coba kita lakukan kalkulasi sederhana

160 menit/minggu/semester/SKS = 2,67 jam/minggu/semester/SKS
= 48 jam/minggu/semester (1 semester = 18 SKS)
= 768 jam/semester (1 semester = 16 minggu)
= 1536 jam/tahun (1 tahun = 2 semester)

Dari data-data tsb, dapat kita lihat bahwa beban kerja mahasiswa S2 di Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan beban kerja mahasiswa S2 di luar negeri, dalam hal ini Belanda.

Atau jika kita ingin bandingkan jumlah mata kuliah yang diambil. Baiklah, mari kita bandingkan.. Asumsikan rata-rata kredit setiap mata kuliah (MK) S2 di Indonesia adalah 3 SKS dan 4 ECTS untuk di Belanda. Maka dalam periode perjalanan kuliah (4 semester), jumlah MK yang diambil adalah

Indonesia = 32 SKS dibagi 3 SKS/MK = ~ 11 Mata Kuliah (dibulatkan ke atas karena terkadang banyak yang 2 SKS)
Belanda   = 75 ECTS dibagi 4 ECTS/MK = ~ 18 Mata kuliah (dibulatkan ke bawah karena terkadang banyak yang 5 ECTS)

Jadi… Mari kita olah lebih lanjut data-data tersebut sebagai bahan justifikasi bagi kita. Selain itu, karena sesuai dengan peraturan Dirjen Dikti (Surat Edaran (SE) Nomor: 152/E/T/2012, tentang Publikasi Karya Ilmiah) bahwa salah satu syarat kelulusan Mahasiswa S2 adalah sudah menerbitkan untuk makalah pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti. Dengan adanya alokasi khusus untuk karya ilmiah yang berjumlah ±10 sks, tentu ini akan menjadi sebuah keuntungan karena memang kita fokus dalam penulisan karya ilmiah ini.

Salam Pendidikan Indonesia..!
Menyongsong Generasi Emas 2045

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Aktual, Pendidikan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Polemik Jumlah SKS Kuliah S2 di Indonesia

  1. desmalayunita berkata:

    Maf sblmny pak, bgs usulan bapak sih, tpi kera kera dl donk pak, pkirkn kami yng br tmt sekrng pak, terkrjut mlhtnya sdgkn saya pengen jd dosen tapi… mlht ini tmbh puyeng saya pak, saya pkirkn jg lg kpn saya kerja sdgkn s2 4 thun, dn kpn jg nikh, aduuuh apalgi bg kaum hawa… tlng jgn dipercept perturn ini pak…. Krn saya ingin msk s2 buln septmber thun 2015 pak…. Teimksh paaak.

    • Pras berkata:

      Mbak Desmalayunita yang baik, terima kasih sudah sempat mampir ke blog saya ini. Sebetulnya tujuan saya menulis ini adalah bukan untuk menambah ketakutan para calon2 magister di bidang-nya masing2. Justru tujuan saya menulis ini adalah untuk memberi ketenangan kepada para calon magister tersebut bahwa pelaksanaan kuliah S2 di Indonesia masih SANGAT MUNGKIN untuk diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Data2 perbandingan yang saya sajikan dalam tulisan di atas dengan asumsi bahwa pelaksanaan kuliah S2 di Indonesia BISA selesai dalam 2 tahun.
      Dengan asumsi 2 tahun tsb, beban kuliah per-semester S2 di Indonesia masih lebih ringan, jika dibandingkan dengan tempat kuliah S2 saya dulu di LN.
      Semoga menambah semangat untuk melanjutkan S2… 🙂

  2. Kiki berkata:

    Tapi kalau lihat kenyataannya mas, sekarang aja yang masih 36 sks masih banyak yang masa studinya lewat dari 2 tahun, apalagi kalau 72 sks.

  3. agus berkata:

    Sy pribadi setuju dg kurikulum baru.Namun yg jg urgen diperbaiki adalah mind-set dosen yg selama ini msh banyak sibuk di luar kampus sdgkan ada kewajiban bimbing penelitian mahasiswanya.Akhirnya susah ketemu dosen, tdk empati dg penelitian mahasiswanya krn menganggap itu penelitian mahasiswa.

  4. maaf ikut mampir, barangkali ada info Beasiswa S2 tahun 2015 ini pa? mhon infonya…

  5. kalau ada bisa dismskan link-linknya ke no saya dibawah ini:
    0822-1445-3740

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s