Memantaskan Diri….


Di dalam Surat ke-2 Al-Quran ayat terakhir, yaitu Al-Baqarah:286, tertulis penggalan firman Allah yang berbunyi “Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa..” yang jika diartikan secara bebas artinya adalah “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Hal ini berarti bahwa segala beban, tugas dan tanggung jawab yang kita pikul selama ini sangatlah sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang kita miliki saat ini. Hal ini menyiratkan pula bahwa tidak mungkin kita memperoleh beban, tugas dan tanggung jawab yang lebih besar jika tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas diri. Kalaupun kita mendapat beban, tugas dan tanggung jawab yang lebih besar dengan kapasitas diri yang tetap, tentu akan terjadi kerusakan terhadap lingkungan sekitar tanggung jawab kita.

Layaknya kapasitas kanal dalam suatu sistem komunikasi yang tidak mungkin melewatkan informasi yang memiliki ukuran lebih besar daripada kapasitas kanal itu sendiri. Jika pun terjadi transmisi informasi yang lebih besar, maka yang akan terjadi adalah distorsi atau kerusakan terhadap informasi tersebut, kecuali memang ada intervensi teknik-teknik tambahan untuk meningkatkan kemampuan kanal tersebut.

Allah memang sudah memberikan kita kemampuan dasar, tapi jika tidak kita asah, latih dan biasakan, tentu hanya itu-itu saja kemampuan kita. Sebagaimana penggalan firman Allah dalam Al-Quran Surat Ar-Rad,surat ke 13 ayat 11 yang berbunyi “Innallaha laayughayyiru maa biqaumin hatta yughayirru maa bianfusihim”. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Itu artinya peningkatan kapasitas kita berbanding lurus dengan besaran usaha yang kita lakukan. Dampaknya, berbanding lurus juga dengan beban, tugas dan tanggung jawab yang akan kita pikul.

Maka, tidaklah salah jika dalam suatu kesempatan, Mario Teguh pernah mengucapkan “Pantaskanlah diri Anda untuk suatu cita-cita yang Anda inginkan.” Memantaskan diri ini merupakan bentuk penerapan dari usaha peningkatan kapasitas diri. Memantaskan diri ini merupakan proyek besar dari penerapan atau penghayatan karakter-karakter dasar suatu cita-cita atau target ke dalam karakter pribadi kita. Karena beban, tugas atau tanggung jawab hanyalah diberikan kepada orang-orang yang memang layak memikulnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw, yang berbunyi, “Berikanlah suatu tanggung jawab kepada ahlinya…”. Dengan kapasitas diri yang mumpuni, jika kelak datang suatu beban, tugas dan tanggung jawab maka akan tercipta kebaikan yang berlipat-lipat bagi lingkungan sekitar.

Jika memang bercita-cita menjadi pejabat publik, maka milikilah karakter-karakter dasar pejabat publik sebagai pelayan masyarakat…

Jika memang bercita-cita menjadi wakil rakyat, maka milikilah karakter-karakter dasar wakil rakyat sebagai aspirator masyarakat…

Jika memang bercita-cita menjadi pelajar/mahasiswa teladan, maka milikilah karakter-karakter dasar seorang pelajar/mahasiswa teladan…

Jika memang bercita-cita menjadi karyawan/guru/dosen teladan, maka milikilah karakter-karakter dasar seorang karyawan/guru/dosen teladan…

Jika memang bercita-cita menjadi guru besar, maka milikilah karakter-karakter dasar seorang guru besar…

Jika memang bercita-cita menjadi orang tua bijaksana, maka milikilah karakter-karakter dasar orang tua teladan…

Hidup adalah perjuangan.. Dan kemenangan hanyalah diberikan kepada seorang pejuang..

Seorang pejuang sejati adalah orang yang memiliki napas panjang…[PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Celotehan, Hikmah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s