“Konsep Keseimbangan” dalam Sistem Komunikasi Wireless


Dalam dunia filosofi china kita mengenal istilah “Yin-Yang”. Salah satu kaedah yang terkandung dalam istilah ini adalah bahwa di dalam sisi gelap terdapat sisi terang dan sebaliknya, di dalam sisi terang terdapat sisi gelap. Hal ini menunjukan bahwa segala sesuatu pasti akan hadir secara berpasangan.

Dalam ajaran Islam, kita dapat melihat konsep keseimbangan ini melalui penciptaan alam semesta. Bersama dengan penciptaan Matahari, Allah pun menciptakan Bulan. Atau bersamaan dengan penciptaan siang, Allah pun menciptakan malam. Selain itu, jika kita merujuk pada Al-Quran Surat Al-Insyirah, 94:6-7, konsep keseimbangan inipun masih berlaku. Ayat tersebut menunjukkan bahwa bersama dengan kesulitan terdapat kemudahan dan bersama dengan kemudahan ada kesulitan.

Apakah itu berlaku juga pada bidang rekayasa? 

Menelisik sistem komunikasi wireless secara mendalam dan menyeleruh, ternyata konsep keseimbangan ini tersirat di dalamnya. Dahulu kala, pada awal perkembangan sistem komunikasi wireless, para peneliti dan praktisi berlomba mengembangkan sistem komunikasi wireless ini sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sistem komunikasi menggunakan kawat yang mengalami keterbatasan untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh dan juga untuk memberikan kepraktisan kepada pengguna layanan telekomunikasi dalam hal mobilitas.

Akan tetapi, di balik keunggulan sistem komunikasi nirkawat yang dapat diakses di mana pun kita berada tanpa perlu adanya sambungan kabel ini, ternyata terdapat suatu masalah mendasar yang diakibatkan oleh karakteristik dasar propagasi atau pemancaran gelombang radio sebagai media pengiriman informasinya. Karakteristik ini menyebabkan sinyal yang diterima oleh terminal penerima tidak hanya berasal dari propagasi langsung yang dipancarkan oleh terminal pemancar, tetapi juga berasal dari propagasi tidak langsung sebagai akibat ada pemantulan sinyal dari berbagi objek yang ada di sekitar terminal pemancar maupun penerima, biasa disebut dengan fenomena multipath. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas sistem komunikasi dihasilkan menjadi buruk karena adanya informasi yang hilang atau penumpukan informasi, sehingga pada akhirnya para peneliti kembali berlomba untuk memberi solusi atas permasalah ini. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan equalizer (dengan berbagai variannya) yang memungkinkan terminal penerima untuk melakukan recovery terhadap distorsi informasi yang terjadi. Dalam fase ini, para peneliti berlomba untuk mencari solusi atas distorsi sebagai akibat adanya propagasi tidak langsung.

Akan tetapi, di lain sisi, ternyata ada para peneliti yang justru berpikir sebaliknya. Mereka berupaya merekayasa fenomena multipath ini sehingga memberikan keuntungan terhadap peningkatan performansi sistem komunikasi. Dari ide ini, lahirlah ide yang diberi nama diversitas, yaitu pemanfaatan perbedaan ruang dan waktu dalam pengiriman informasi untuk meningkatkan performansi sistem komunikasi, yang kemudian dipilih sinyal pada terminal penerima yang memiliki kualitas terbaik di antara sinyal lainnya.

Subhanallah… Allahukbar.. Yang Maha Menciptakan alam semesta tanpa kesia-siaan sedikit pun.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Sistem Komunikasi, Teknologi dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s