Perjuangan untuk hasil terbaik


Hidup di negeri yang memiliki empat musim menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang terbiasa hidup di daerah tropis, terutama bagi saya. Tidak seperti di daerah tropis yang memiliki iklim cukup stabil, daerah empat musim memiliki iklim yang selalu berubah setiap tiga bulan dengan perubahan suhu yang ekstrem. Kadang2 berada pada suhu di bawah nol derajat, ada kalanya juga berada suhu belasan bahkan mungkin di atas 30-40 derajat. Tidak terkecuali di Belanda, tempat saya menuntut ilmu saat ini.

Di Belanda, pada saat datang, saya langsung dihadapkan pada suhu yang berada pada kisaran 10-15 derajat celcius. Hal ini terjadi karena saya datang di penghujung musim panas, memasuki musim gugur. Belum lagi hembusan angin laut yang membawa hawa dingin menjadikan suhu yang terasa oleh tubuh lebih rendah daripada suhu yang terukur di termometer. Saat memasuki musim dingin, “perjuangan” pun menjadi terasa sangat berat karena suhu yang terukur di termometer berada pada kisaran -10 sampai dengan 3 derajat celcius dengan pemandangan serba “putih” karena tumbuhan2 hijau tidak berbunga. Kondisi ini membuat keinginan untuk beraktivitas menjadi turun. Dan di sinilah “perjuangan” saya sebagai bangsa daerah tropis mencapai puncaknya.

Akan tetapi, kondisi tersebut menjadi berbeda pada saat sudah memasuki musim semi. Pada masa-masa transisi dari musim dingin ke musim semi, pohon2 yang tadinya kering tidak berdaun dan berbunga bak pohon yang mati mulai menunjukkan kembali kehidupannya. Kondisi ini ditandai  dengan tumbuhnya tunas-tunas pada ujung-ujung ranting pepohonan tersebut, yang berarti secercah keindahan akan kembali muncul. Belum lagi orang2 pribumi yang mulai menanam tunas-tunas bunga tulip di halaman rumahnya untuk menikmati keindahannya di musim semi ini. Geliat tumbuhnya tunas-tunas pepohonan yang seolah otomatis mengikuti ritme kehidupan, tidaklah terjadi dengan sendirinya. Melainkan ada “sesuatu” yang mengaturnya menjadi sangat harmonis dan beraturan. Itulah ciptaan Allah, Tuhan yang Maha Esa, Rabb semesta alam.

Setelah selama kurang lebih 3 bulan orang-orang yang ada di Belanda berjuang dalam menghadapi kerasnya musim dingin, namun pada puncak musim semi ini mereka akan kembali menyerbak senyuman karena menyaksikan keindahan taman tulip yang hanya hidup di musim semi ini. Dan pada musim panas nantinya mereka “merayakan” nikmatnya pancaran cahaya matahari yang menghangatkan kehidupannya.

Itulah kehidupan kawan.. Ada kalanya kita akan mengalami perjuangan yang sangat berat sehingga seolah tidak ada daya untuk bertahan namun kita harus bisa tetap hidup. Namun, setelah itu kita akan merasakan indahnya hasil dari perjuangan itu yang bisa jadi memang sudah bisa kita bayangkan sebelumnya, atau bahkan belum bisa dibayangkan sama sekali. Namun yakinlah, bersama kesukaran itu akan kemudahan. Sebagaimana janji Allah dalam Surat Al-Insyirah, 94:5.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan

[PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, The Netherland dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s