Pribadi yang Tak Punya Kepribadian


Seorang pria yang hendak menikah, mengeluh pusing tujuh keliling karena harus menuruti  kemauan keluarga besarnya yang beraneka ragam. “Tapi ketika saya tanya maunya sendiri apa, dia malah bingung,” tutur Prof. Bambang W. Sugiharto. Bambang menuturkan anekdot tentang rekannya tadi, dalam kuliah umumnya “Kekerasan dan Agama” Kamis malam (02/12) lalu. Anekdot tersebut adalah cermin lemahnya individualitas masyarakat Indonesia. Menurut Guru Besar Fakultas Filsafat UNPAR tersebut, lemahnya individualitas turut menyebabkan maraknya kekerasan di Indonesia saat ini.

Mental bangsa Indonesia menurut Bambang, pada dasarnya adalah paternalistik. Masyarakat terbiasa mencari perlindungan dan mengikuti kemauan kelompok. Mental ini diperparah lagi dengan kekangan negara untuk berekspresi selama masa Orde Lama dan Orde Baru. Akibatnya, individualitas dalam bentuk keyakinan untuk mengambil pilihan dan tanggung jawab pribadi, sangat lemah. Orang Indonesia kata Bambang, umumnya hanya berani berbuat dalam kelompok.

Kondisi ini menimbulkan masalah setelah reformasi. Memang tidak ada lagi kekangan untuk berekspresi. Orang pun menjadi kritis dan mudah memprotes berbagai hal. Mulai muncul kesadaran akan hak-hak individu. Sayangnya, individunya tidak punya individualitas. Keinginan untuk bebas tanpa kemampuan mengambil sikap pribadi,  akhirnya mendorong orang untuk kembali mencari keamanan dalam kelompok.

Muncullah berbagai kelompok baru seperti aneka sempalan keagamaan dan geng motor. Muncul pula kelompok yang memperkuat identitas lama seperti agama, suku, bahkan kampung. Pengukuhan identitas baru maupun lama ini, menimbulkan berbagai gesekan di antara kelompok-kelompok tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang berpotensi melahirkan kekerasan.

Selain lemahnya individualitas, orang mencari keamanan dalam kelompok karena tidak percaya pada sistem. Padahal menurut sosiolog kondang Inggris Anthony Giddens, masyarakat modern hanya berjalan karena terbentuknya kepercayaan pada sistem, bukan bergantung pada orang per orang. Institusi-institusi negara kita selama bertahun-tahun memang digerogoti korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Pembangunan sistem dan individualitas yang kokoh, lanjut Bambang, biasanya butuh puluhan bahkan ratusan tahun. Amerika dan negara-negara Eropa adalah buktinya. Namun, Indonesia tidak punya kemewahan waktu sebanyak itu. Dalam usaha memperpendek jarak tempuh tersebut, “Kita perlu belajar dari China dan Korea,” tegas Bambang. Kepemimpinan mereka yang otoriter dan keras sebenarnya banyak membantu percepatan tersebut. Sayangnya ujar Bambang, di saat belum memiliki sistem yang kokoh, Indonesia justru kehilangan kepemimpinan seperti itu.

Bambang sendiri mengaku tidak tahu apa solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Namun Beliau melihat bahwa menguatnya kekritisan individu merupakan tanda perbaikan bangsa ini. Kekritisan tersebut antara lain tampak dari keinginan untuk melakukan kontrol bersama dan tuntutan akan public accountability. “Saya ingin berharap, bahwa kekerasan yang terjadi saat ini hanyalah ekses saja,” pungkas Bambang.

disclaimer : tulisan ini adalah artikel yg dicuplik dari situs YPM Salman ITB.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s