Etika Berkata


Dalam sesi pengajian online pada hari Rabu, 3 Desember 2010, yaitu sesi kultum, sang pemberi kultum memberikan materi yang disampaikan oleh Ade Muzaini Aziz, MA. Materi berisi tentang etika-etika yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam bertutur kata. Saya pikir, jika ditarik dalam nilai-nilai kehidupan secara umum, rasanya etika-etika ini sangatlah bersesuaian untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi yang berintegritas. Pribadi yang memahami hakikat dirinya dalam kehidupan dan menyebarkan kebaikan dengan sebenar-benarnya kebaikan. Sehingga setiap perilaku dan ucapan kita itu dilandaskan pada prinsip-prinsip yang benar.

Berikut, cuplikan dari kultum tersebut,

Kalimah thayyibah atau perkataan yang baik merupakan perkataan yang direstui oleh Allah SWT (QS Ibrahim [14]: 24-25). Ia punya akar kebenaran yang kuat dan menimbulkan maslahat bagi umat; laksana pohon yang subur, rimbun, dan berbuah lebat.

Di dalam Alquran, setidaknya disebutkan ada tujuh jenis perkataan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pertama, qawlun ma’ruf (perkataan yang baik). Perkataan jenis ini identik dengan kesantunan dan kerendahan hati. Alquran mensinyalir bahwa mengucapkan qawlun ma’ruf lebih baik daripada bersedekah yang disertai kedengkian (QS Albaqarah [2]: 263).

Kedua, qawlun tsabit (ucapan yang teguh). Perkataan ini punya argumentasi yang kuat serta dilandasi keimanan yang kokoh. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS Ibrahim [14]: 27).

Ketiga, qawlun sadid (perkataan yang benar). Tiada dusta dan kebatilan dalam ucapan ini. Kata sadid berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung, atau menghalangi. Qawlun sadid yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Bukti ketakwaan seorang Mukmin di antaranya gemar mengucapkan perkataan ini (QS Al-Ahzab [33]: 70).

Keempat, qawlun baliqh (ucapan yang efektif dan efisien). Ini adalah jenis ucapan yang cermat, padat berisi, mudah dipahami, dan tepat mengenai sasaran alias tidak ngelantur . Tipe perkataan seperti ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS Annisa [4]: 63).

Kelima, qawlun karim (perkataan yang mulia). Ia adalah tutur kata yang bersih dari kecongkakan dan nada merendahkan atau meremehkan lawan bicara. Terdapat semangat memuliakan, menghormati, dan menghargai terhadap lawan bicara dalam qawlun karim tersebut (QS Al-Isra [17]: 23).

Keenam, qawlun maysur (ucapan yang layak dan pantas). Maysur arti asalnya adalah yang memudahkan. Ucapan ini mengandung unsur memudahkan segala kesukaran yang menimpa orang lain, dan menghiburnya guna meringankan beban kesedihan (QS Al-Isra [17]: 28).

Ketujuh, qawlun layyin (tutur kata yang lemah lembut). Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air dapat memadamkan api. Inilah pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika keduanya hendak menghadap Firaun yang lalim (QS Thaha [20]: 44).

Rasulullah SAW pun mengingatkan, ”(Muslim terbaik) ialah yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (perbuatannya).” (HR Bukhari dan Muslim). Semoga lisan, tulisan, dan tindakan kita, senantiasa sesuai dengan tuntunan Ilahi dan para nabi, amin.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s