Itulah “tiket” kalian!


Ya…
Itulah “tiket” kalian!!

Sebuah pernyataan yang terus-menerus menempati ruang kosong pikiran saya sejak sekitar 3 tahun lalu sampai dengan detik ini membuat saya termenung dengan berbagai hal yang sudah saya lakukan selama ini.

Pernyataan tersebut muncul ketika seorang kakak kelas sebuah organisasi remaja Islam di sebuah masjid kampus terkenal di Indonesia (red. KARISMA ITB) memberikan taushiyah atau nasehat dalam sebuah pertemuan silaturahim antara alumni dan pengurus organisasi ketika itu. Dalam taushiyahnya tersebut, beliau menyampaikan nasehat mengenai kehidupan masa depan yang akan dijalani oleh kami setelah kelak keluar dari masa kampus, atau orang-orang sering menyebutnya dengan masa pasca-kampus.

Sebutlah kakak kelas itu namanya, Kang Bas. Beliau menyampaikan bahwa dalam memasuki dunia pasca-kampus, berbagai hal yang kami lakukan atau pelajari dalam organisasi tersebut merupakan hal berharga yang akan sangat berguna bagi kami dalam menjalani dunia pasca-kampus tersebut. Dalam dunia pasca-kampus tersebut, komunikasi interpersonal merupakan hal yang paling krusial karena hampir tidak mungkin kita tidak akan menemui masalah dalam hubungan dengan sesama. Dan di KARISMA itulah kami belajar tentang hal itu.

Dalam kesempatan itupun, beliau menyampaikan bahwa hal-hal yang kami pelajari di bangku kuliah itu hanya 10% yang digunakan secara langsung dalam dunia pasca-kampus, sedangkan sisanya hanya akan tersimpan rapi dalam buku catatan kuliah yang kami buat. Namun, beliau pun mengingatkan walaupun hanya terpakai 10%, jangan sampai bangku kuliah tersebut terabaikan. Karena mau-tidak-mau, sebagai besar perusahaan menjadikan prestasi akademik ini sebagai pertimbangan dalam seleksi calon karyawan-nya, melalui IP/IPK yang diperoleh. Sehingga IP/IPK tersebut adalah TIKET kalian dalam memasuki jenjang karir, walaupun memang ada juga beberapa perusahaan yang tidak mensyaratkan hal tersebut.

Dalam kesempatan lain, ketika S1 dulu, ada pula seorang dosen yang menyampaikan hal tersebut secara tersirat. Beliau menyayangkan kondisi industri sekarang yang menggunakan parameter IP/IPK sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi karyawan, karena pada awalnya parameter tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan tenaga pendidik di perguruan tinggi. Nasi sudah menjadi bubur, sehingga mau-tidak-mau kita harus mengamankan IP/IPK tersebut agar kita memiliki posisi “aman” di dunia pasca-kampus nanti.

Memang, kondisi ini tidak bisa diberlakukan secara general kepada semua orang. Kondisi ini mungkin hanya berlaku pada orang2 yang ingin berkarir di perusahaan2 besar atau juga berniat untuk meniti karir dalam jalur akademisi, sehingga IP/IPK menjadi sangat penting. Berbeda hal dengan orang2 yang ingin berwirausaha, maka kondisi ini mungkin tidak bisa diberlakukan pada dirinya.

Namun, meskipun memiliki IP/IPK yang besar, setelah masuk dalam industri besar, tidak ada jaminan bahwa karir dia akan sukses jika tidak diimbangi dengan kemampuan interpersonal yang baik. Begitupun dengan orang2 yang ingin berwirausaha, tidak akan berhasil jika tidak juga diimbangi dengan kemampuan interpersonal yang baik.

Dari semua kondisi tersebut, maka sejak awal kita perlu mendefinisikan dan mengdeklarasikan diri akan menjadi seperti apa diri kita kelak setelah keluar dari bangku kuliah. Setelah deklarasi tersebut, lakukan langkah2 untuk menggapai impian tersebut dengan konsisten. Jangan sampai kita tersesat, karena tidak memiliki informasi yang memadai terkait masa depan kita. Ajaklah diskusi orang2 terdekat kita sebagai bahan pertimbangan kita untuk menentukan masa depan kita.

Selamat Berjuang…

Kesuksesan ada di tangan Anda..

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Kisah Hidup dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s