Untuk Apa dan Siapa kita hidup?


Hmm…

Itu adalah pertanyaan yang mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk dijawab jika tidak disertai oleh idealisme yang mendalam.

Menurut hasil survei yang biasa saya lakukan ketika melaksanakan sebuah training terkait orientasi hidup, banyak variasi jawaban yg muncul.

Ada yang menjawab, saya hidup untuk diri saya sendiri, buat apa memikirkan orang lain.

Ada yang menjawab, saya hidup untuk orang tua saya, karena ingin melihat mereka bahagia.

Ada yang menjawab, saya hidup untuk anak dan keluarga saya, karena mereka tanggung jawab saya.

Ada juga yang menjawab, saya hidup untuk orang2 yang berada di sekitar saya.

Sahabatku,

Semua hal itu adalah benar. Jika kita bisa mengatakan demikian, berarti minimal kita sudah berada satu langkah lebih depan daripada yang lain, karena kita tau untuk apa kita hidup. Tidak jarang ada beberapa sahabat kita yang mungkin tidak bisa menjawab hal itu secara spontan, kecuali setelah diberi waktu beberapa saat. Tidak sedikit di antara kita yang kesulitan menjawab ketika ditanya “buat apa anda sekolah?”, “buat apa anda kuliah?”, “buat apa anda bekerja?”. Kalaupun ada jawaban, biasanya itu berorientasi pada inner life circle-nya. Misalnya, supaya pintar, supaya punya bekal, supaya gaji besar, dll. Namun ketika ditanya lebih jauh, buat apa itu semua, mereka cenderung kesulitan untuk menjawab. Jarang di antara kita yang memiliki orientasi pada outer life circle.

Jika kita ingin melangkah lebih jauh lagi, banyak orang yang bisa kita pelajari perjalanan hidupnya sehingga mereka bisa sukses. Memang sulit, jika belum memiliki idealisme yang kuat terkait hal itu. Namun, bukan tidak mungkin bahwa kita akan menemukan jawabannya seiring dengan keinginan kita untuk dapat peka terhadap dinamika kejadian yang ada dalam perjalanan hidup kita.

Banyak orang yang tampaknya hidup2 biasa2 saja, tapi ternyata ada kebahagiaan hati yang sangat luar biasa dalam dirinya. Banyak orang yang hidup penuh tekanan, tapi ternyata mereka dapat memberi banyak manfaat bagi orang banyak, bahkan dunia.

Cobalah kita lihat Hasan Al-Banna, Yusuf Qardhawi, Syeikh Ahmad Yassin, Mahatma Gandhi, Jenderal Sudirman dan sebagainya. Mereka bahagia bukan hanya karena banyaknya harta, tapi mereka bahagia karena dapat menjadi inspirasi kehidupan bagi dunia sehingga nama mereka tetap hidup meski mereka telah tiada. Bahkan untuk dapat menjadi inspirasi dunia tersebut, mereka harus rela mati di tiang gantungan. Mereka harus rela mati karena dibunuh. Tapi mereka tidak gentar. Karena mereka tau untuk siapa mereka dilahirkan di dunia ini.

Semoga kita pun dapat mengikuti jejak langkah mereka walau hanya satu hasta…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Kisah Hidup dan tag , , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Untuk Apa dan Siapa kita hidup?

  1. Intan berkata:

    saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan…

    mirip lah ya…
    hehehe

  2. sherlanova berkata:

    Mereka menjadi inspirasi karena mereka terinspirasi.
    Mereka tergerak. Mereka terlihami.

    Mungkin Pras memang ada untuk menginspirasi,
    mengilhami, dan menggerakkan.

    😉

    Cie…cie…..

    • Prasetiyono Hari Mukti berkata:

      wah…
      betul… betul… betul…

      “mereka menjadi inspirasi, karena mereka terinspirasi”

      wise statement… 😀

  3. alfikriyah berkata:

    satu pertanyaan yang terlewat kang..
    ‘buat apa anda menikah??’ h3..

    hidup untuk yang Maha hidup..
    berikan yang terbaik untuk yang terbaik.
    insya Allah..

  4. Onnay Okheng berkata:

    huahahahaha.. 😆
    ternyata blogna apdet deui!!ahahahah… 😆

    kalo di tanya, “Untuk apa akang ngeBLOG??”

    gimana tah kang??hahaha… 😛

    • Prasetiyono Hari Mukti berkata:

      Untuk apa ngeblog?

      Dengan tulisan2 dalam blog ini, saya berharap dapat menjadi jalan hikmah bagi orang2 yang membaca blog ini.

  5. Muf berkata:

    Rasanya pertanyaan untuk apa-nya masih belum terjawab.

    • Prasetiyono Hari Mukti berkata:

      ya.. semoga dengan ini menjadi terinspirasi untuk menjawab.
      Salah satu jalan untuk menemukan jawaban ini adalah dengan menemukan hakikat dari penciptaan kita.

  6. Ping balik: 2010 in review « Prasetiyono's Weblog

  7. imam berkata:

    وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
    Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengibadahi-Ku semata.
    Adz-Dzariyat 56
    Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, ibdaha adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.
    Dan tidaklah Allah diibadahi kecuali dengan syariat yang dibawa utusan-Nya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda di dalam riwayat al-Imam Muslim,
    من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد- رواه مسلم
    Barangsiapa beramal tanpa contoh dari kami, amalan itu tertolak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s