Antara Duka dan Bahagia


Hm… Tulisan ini sebenarnya sudah ingin saya postingkan sejak lama. Saat itu terinspirasi ketika bertugas di daerah bencana Tanah Longsor di Perkebunan Teh Dewata, Ciwidey, Kabupaten Bandung, pada bulan Maret 2010 lalu.

Inspirasi tulisan ini muncul ketika bertemu dengan berbagai keluarga korban baik yang berhasil ditemukan maupun yang tidak. Dari sini saya belajar tentang konsep syukur.

Ketika terjadi suatu bencana siapa sih yang ga akan sedih. Kerusakan fisik atau luka ringan saja sudah bisa menimbulkan rasa trauma yang cukup mendalam terhadap kejadian itu. Apalagi ketika akibat dari bencana menjadi kehilangan orang-orang yang dicintai. Itulah yang dirasakan oleh para korban yang saya temui.

Ketika itu saya berada di posko utama evakuasi, di mana para tim rescue lalu lalang dan keluarga para korban pun berkerumun untuk memastikan keberadaan keluarga mereka.

Ada orang yang ketika awal kedatangannya tampak murung, namun ketika melihat nama keluarga yang dicarinya tidak ada dalam daftar nama orang hilang, tersirat rasa bahagia di wajahnya.

Ada orang yang ketika datang kemudian melihat nama keluarga yang dicarinya itu ada, menjadi histeris dan bertanya berkali2 pada tim rescue yang jaga tentang nasib keluarganya itu. Namun, ternyata dibalik kesedihan para keluarga korban itu, masih ada rasa bahagia ketika keluarga yang dicarinya itu ditemukan meski sudah tidak bernyawa. Karena mereka bisa memakamkan keluarganya itu dalam kondisi sebaik2nya. Berbeda kalau ternyata tidak ditemukan.

Itulah kondisi yang saya temukan ketika mengantarkan jenazah yang berhasil ditemukan ke rumah keluarganya. Saat itu saya mendengar ada salah seorang sanak saudaranya yang sebenarnya terlihat sedih bahkan sambil menangis, mengatakan “Alhamdulillah…”. Spontan saja saya keget. Karena kontradiksi antara ucapan, perasaan dan ekspresinya. Namun sepanjang perjalanan pulang kembali ke lokasi, saya merenungi bahwa tidak selamanya Allah menurunkan kesedihan. Bersama kesedihan itu insyaAllah ada kebahagiaan.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan terjemahan beberapa ayat dalam Al-Quran,
“… Setiap yang bernyawa pasti akan mati…”
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Kisah Hidup dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s