Paradigma Perubahan


“Sukses saat ini bukanlah jaminan kesuksesan di masa mendatang” dan “Sukses di masa lalu bukan juga jaminan untuk sukses di masa kini.” Begitulah kira-kira wisdom yang disampaikan oleh Pak John Welly, seorang Alumni Teknik Elektro ITB Angkatan 1973, sudah melanglang buana di Industri Telekomunikasi selama kurang lebih 27 tahun.

Tidak salah kala itu saya memaksakan diri untuk hadir dalam kuliah Kapita Selekta Teknik Telekomunikasi yang mendatangkan Pak John Welly sebagai dosen tamu. Saat itu saya tidak terbayang apa yang akan disampaikan oleh beliau melalui kuliahnya itu. Namun, begitu melihat judul bahan materi yang akan beliau sampaikan “Leading and Managing Organizational Change”, terlintas dalam pikiran saya pasti banyak pencerahan yang akan saya dapatkan di sana. Dan ternyata benar…

Dalam kuliahnya tersebut, beliau menceritakan bagaimana dua buah perusahaan telekomunikasi milik pemerintah memperbaiki diri agar siap berkompetisi secara sehat dalam Industri Telekomunikasi Indonesia.

Bagian yang menjadi inspirasi bagi saya bukanlah seberapa hebat perusahaan-perusahaan tersebut dalam mengembangkan dirinya, tapi lebih kepada pelajaran tentang strategi memimpin dan mengelola perubahan yang harus dilakukan.

Hal tersebut terkait dengan pengalaman saya di sebuah organisasi yang kala itu dituntut untuk berubah. Namun, sampai saat ini perubahan tersebut belum juga terwujud. Satu hal yang membenarkan analisis saya adalah nostalgia masa lalu. Ternyata kenangan akan kesuksesan program-program masa lalu ini yang menjadikan anggota organisasi tersebut terus bergulat dengan program tersebut meski bisa jadi sudah dirasa membosankan oleh pasar saat ini. Core aktivitasnya bisa jadi tetap, namun pewujudan programnya yang bisa berbeda disesuaikan dengan kondisi masa kini.

Saat saya berada dalam puncak kepengurusan organisasi tersebut, sempat saya akan mengeluarkan kebijakan program masa lalu tersebut, namun ternyata muncul gejolak yang sangat kuat dari segala sisi sehingga untuk meredam gejolak tersebut saya perlu memodifikasi kebijakan tersebut. Namun, karena modifikasinya tidak sempurna, akhirnya nostalgia masa lalu itu muncul kembali. Satu hal juga yang saya dapatkan, adalah keberanian seorang pemimpin untuk memutus nostalgia masa lalu tersebut ketika itu menjadi penghambat untuk maju di masa mendatang. Dan itupun dibenarkan pula dari insight yang saya dapatkan dari kuliah kapita selekta tersebut.

Memang masa lalu harus kita jadikan pelajaran, tapi bukan berarti kita terbuai dengan masa lalu tersebut. Justru pelajaran apa yang bisa kita gunakan untuk mengelola perubahan ke arah lebih baik di masa mendatang tersebut.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s