“Titip Absen”


Suatu saat saya pernah diminta teman yang seorang dosen untuk menggantikan mengajar di kelasnya di sebuah Perguruan Tinggi swasta. Diminta menggantikan mengajar 2 kali, masing-masing di 2 kelas yang berbeda. Luar biasa… Hal di luar dugaan pun terjadi. Pekan pertama, di kelas kedua saya memergoki adanya mahasiswa yang “titip absen”. Tidak tanggung-tanggung 5 mahasiswa langsung. Saya kira itu adalah kejadian terakhir. Ternyata, pada minggu kedua saya ngajar, “titip absen” pun ternyata terjadi lagi, Tapi kali ini di kelas yang pertama. Sebuah kejadian yang tidak masuk dalam toleransi saya. Boleh saja mereka tidak senang dengan saya. Boleh saya mereka menggunjing saya. Tapi untuk yang satu ini rasanya sangat parah. Ini terkait dengan attitude yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Sebuah nilai yang juga seharusnya dibangun dalam institusi pendidikan, bukan hanya pembangunan nilai intelektual. Intelektual tanpa disertai dengan attitude yang baik, malah akan mendatangkan malapetaka yang sangat menakutkan. Dalam pikiran saya saat itu, seandainya saya dosen aslinya mungkin sanksi terberat yang akan saya berikan adalah nilai “E” atau “D” dalam DNA mata kuliah tersebut. Ya tentu dengan proses klarifikasi yang telah dijalankan, sehingga sang mahasiswa sadar akan kesalahannya dan hukumannya pun disepakati oleh yang bersangkutan. Setelah saya telurusi, ternyata kondisi ini tidak terlepas dari sistem akademik yang dibangun oleh sebuah perguruan tinggi. Memang kita menginginkan kualitas pendidikan yang memadai bagi semua mahasiswa dalam perguruan tinggi tersebut. Tapi kita pun tidak bisa mengabaikan sisi lain yang juga perlu diperhatikan dalam proses pendidikan tersebut. Sekali lagi, bukan hanya pendidikan intelektualitas, tapi juga moral atau akhlak yang juga perlu dibangun. Bagaimana jadinya bangsa ini, jika manusia-manusia pembangunnya hanya berbekal kemampuan intelektualitas tanpa akhlak yang memadai. Hasil penelusuran tersebut menunjukkan bahwa “titip absen” itu terjadi akibat adanya kebijakan akademik yang melarang mahasiswa dengan kehadiran di bawah 75% untuk ikut UTS/UAS. Karena ketakutan itu, akhirnya mereka berani untuk “titip absen”. Larangan itu sudah bersifat komputasi, sehingga jika ada mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 75%, dapat dipastikan nama mereka tidak muncul dalam daftar peserta ujian. Dengan kondisi seperti ini, rasanya perlu dibuat sebuah sistem yang dapat memfasilitasi kedua hal tersebut. Pendidikan intelektualitas dan akhlak. [PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s