Kisah seorang Kawan Dekat…


Kembali membuka blog yang saya miliki, terlirik oleh bola mata sebuah kategori yang dulu pernah saya buat. “Sang Bidadari”. Sebuah kategori yang saya buat untuk diisi dengan kisah-kisah pencarian “sang bidadari” dalam kehidupan seseorang.

Melihat kategori tersebut, teringat kisah kawan dekat saya yang sedang melakukan proses menuju pernikahan. Saking merasa dekat dengan saya, beliau menceritakan semua hal terkait dengan proses yang sedang dijalaninya.

Spontan, saat itu, saya pun terkejut. Secara gitu lho.. Saya yang masih kelas kacangan gini harus mendengar cerita seorang kawan dekat yang sudah melangkah jauh daripada saya. Tapi saya pun teringat sebuah materi training komunikasi yang sering saya berikan. Dan akhirnya saya pun mendengarkannya dengan seksama agar bisa dijadikan pelajaran.

Berikut petikan kisah dari kawan dekat saya ini. Semoga dapat diambil hikmahnya.

Kawan dekat saya ini menceritakan kepada saya bahwa pada suatu saat, beliau memasukkan biodata dirinya kepada seorang gurun ngajiya untuk diproses dengan seorang akhwat yang sudah diidamkannya sejak lama menuju jenjang pernikahan. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan beliau menantikan kabar dari sang guru tentang proses yang sedang dijalaninya itu. Bingung, gelisah, was-was bercampur sejuta rasa dalam dirinya menanti kabar dari sang guru tersebut. Betapa tidak, menurut cerita kawan saya ini, bahwa akhwat yang sedang dinantikannya itu adalah benar-benar seorang akhwat yang memiliki karakter dan sifat sesuai dengan idamannya selama ini. Karakter dan sifat unik yang tidak kawan saya temukan pada diri akhwat lain yang pernah dikenalnya. Sehingga harapan dalam penantian ini muncul dengan sangat kuat.

Singkat cerita, Sang Guru pun memberikan kabar kepada dia hasil dari proses yang sedang dijalaninya. Sang Guru memberikan kabar bahwa sang akhwat idamannya itu tidak bersedia untuk berproses dengannya. Mendengar kabar tersebut, kawan dekat saya ini langsung terperangah bercampur berjuta rasa tak menentu. Bingung, tuturnya, bagaimana harus menyikapi. Sosok akhwat yang selama ini dia nantikan ternyata tidak bersedia berproses dengannya. Dan dia pun menuturkan bahwa tiba-tiba muncul perasaan kekhawatiran dalam dirinya mendapatkan akhwat lain yang tidak sesuai dengan karakter dan sifat idamannya tersebut.

Mendengar keluhannya itu, saya yang sok bijak ini (secara gitu lho.. kayak gini2an mah masih harus belajar banyak. Kalau ke teman saya yang lain – Ivan – mungkin bisa tok cer) menyarankan kepada beliau untuk merenung sesaat. Mengingat kembali segala pembelajaran yang telah didapatkannya selama ini, mungkin ada sesuatu yang terlupakannya. Sambil juga menyarankan kepada beliau jika memang itu sudah keputusan terakhir dari sang akhwat, ikhlaskanlah. Doakan beliau mendapatkan pasangan yang terbaik, sambil berdoa untuk diri sendiri agar kawan dekat saya ini memperoleh jodoh lain yang minimal memiliki kriteria yang sama dengan akhwat itu. Syukur-syukur mendapatkan yang lebih baik.

Selang beberapa hari kemudian, sang kawan ini mengatakan bahwa sekarang dia mulai bisa mengendalikan diri dan hatinya. Dalam kondisi yang sangat berat karena merasa cinta bertepuk sebelah tangan (kalau bahasa anak muda zaman sekarang), beliau mengatakan bahwa mungkin ini belum takdirnya. Mungkin ada hal lain dalam dirinya yang memerlukan pembenahan. Dan biarlah Allah yang tetap memberikan keputusan, tidak berani memaksakan, ungkapnya. Khawatir malah murka Allah yang dia dapatkan. Meski harapan itu masih muncul dengan sangat kuat. Beliau pun menuturkan mungkin beliau belum pantas untuk memperoleh akhwat yang sesuai dengan harapannya tersebut. Dan berharap ada skenario lain dari Allah yang lebih indah dari ini semua.

Mendengarkan ungkapan dari kawan saya ini, terenyuh rasanya hati ini. Ungkapan kedewasaan sebagai buah dari pemahamannya selama ini dari seorang manusia biasa. Manusia yang tidak memiliki apapun selain harapan akan turunnya rahmat dan Ridho Allah. Subhanallah… Semoga Allah mengizinkan kawan saya ini segera dapat memperoleh apa yang menjadi harapannya selama ini meski dalam bentuknya yang lain.

Nah.. Bagi sahabat-sahabatku yang lain.. Boleh saja kita membuat perencanaan dan cita-cita dalam hidup kita ini. Tapi semuanya itu ternyata tunduk pada kehendak Allah. Dzat yang Maha Sempurna dalam melakukan perencanaan. Kita hanya bisa berusaha dan bertawakal kepada-Nya. [PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Sang Bidadari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s