Hikmah mah dari mana saja…


Beberapa waktu belakangan ini, pikiran saya dikacaukan dengan hal-hal aneh yang berkaitan dengan takdir Allah. Takdir Allah yang saya dapatkan sejak masa SD sampai dengan saat ini. Takdir yang lebih banyak tidak sesuai dengan cita-cita dan harapan yang telah saya buat sebelumnya. Sampai-sampai muncul rasa dengki dalam diri saya.. Kok enak sekali teman-teman saya yang lain dapat memperoleh cita-cita dan harapannya dengan begitu mudah. Sedangkan saya harus berupaya keras untuk bisa memperoleh semua harapan dan cita-cita saya. Kadang merasa juga bahwa Allah itu tidak adil pada diri saya…

Saat perpindahan dari SD ke SMP, saya tidak dapat masuk SMP yang saya cita-citakan. Malahan masuk ke SMP yang tidak saya rencanakan sebelumnya. Saat dari SMP ke SMA pun demikian. Saya tidak berhasil masuk ke SMA yang saya cita-citakan, tetapi masuk ke sekolah pilihan kedua. Walaupun setelah satu semester, orang tua saya memindahkan ke SMA yang sesuai dengan cita-cita saya dengan alasan agar saya terbawa nuansa persaingan berprestasi di sekolah tersebut. Saat perpindahan dari SMA ke bangku kuliah, baru saya berhasil mencapai cita-cita saya. Dan rasa-rasanya ini adalah keberhasilan yang jarang saya dapatkan. Karena sejak itu sampai saat ini, saya belum mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan cita-cita dan harapan saya selama ini.

Teringat sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Desi Ratnasari pada dekade tahun 90-an yang berjudul “TAKDIR”. Takdir memang kejam.. Tak mengenal perasaan… Begitulah kira-kira bunyinya lagu tersebut. Kejam memang… Namun ternyata seiring dengan berjalannya waktu, takdir itu tidak sekejam yang kita kira. Ada banyak hikmah di balik itu semua. Hikmah dari keikhlasan atas segala skenario yang telah Allah tetapkan. Dan sumber hikmah itu bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja…

Beberapa waktu yang lalu, pada suatu hari saya diagendakan untuk mengisi dua acara pengajian secara berturut-turut. Dengan beban pikiran saya yang kacau tersebut, ingin rasanya saya membatalkan semua agenda tersebut agar saya dapat menenangkan diri. Tapi ternyata, skenario Allah jauh lebih baik daripada yang kita kira. Saat saya sedang berusaha menenangkan diri dari pikiran-pikiran kacau tersebut, terdengar suara yang penuh semangat dari seorang peserta pengajian tersebut. Mendengar suara tersebut, saya pun bergegas mempersiapkan diri dan media-media yang diperlukan untuk melakasanakan pengajian pertama ini.

Pengajian pun dimulai. Materi pun disampaikan. Materi yang sempat tertunda penyampaiannya sejak dua pekan sebelumnya. Tapi memang karena skenario Allah, materi itu tersebut baru bisa disampaikan pada pekan tersebut. Materi yang telah disiapkan tersebut, tanpa disadari sebelumnya mengarahkan para peserta untuk membangkitkan berbagai pertanyaan terkait materi yang saya berikan. Jika ditelaah lebih lanjut, ternyata secara tidak langsung pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarah pada masalah-masalah yang sedang saya alami saat ini. Karena itu sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan keimanan, maka saya pun harus menjawab dengan sebenar-benarnya. Nah.. Dari jawaban atas setiap pertanyaan itulah pencerahan atas segala kondisi yang sedang saya alami muncul. Sebuah pencerahan yang membangkitkan kembali kesadaran atas berbagai pemahaman yang selama ini saya peroleh. Dikuatkan lagi dengan materi-materi yang saya sampaikan pada agenda pengajian kedua. Subhanallah… Di tengah kondisi pribadi yang sedang buruk ini, ternyata Allah masih berkenan menurunkan hikmah-Nya pada saya. Mungkin di sinilah ke-MAHA ADIL-an Allah ditunjukkan…

Oleh karena itu sahabat-sahabatku… Dalam hidup ini bolehlah kita memiliki berbagai harapan dan cita-cita. Namun, kita kembalikan semua harapan dan cita-cita kita tersebut kepada Allah. Kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Boleh jadi sangat kuat harapan dan cita-cita tersebut. Namun tetaplah Allah Yang Maha Menentukan. Kita hanya bisa berdoa agar diberikan yang terbaik oleh Allah… Terbaik menurut pandangan Allah bagi kita…

Dan ternyata, hikmah itu bisa turun dari kapanpun dan melalui siapapun. Jika Allah memang sudah berkehendak, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.

Dan satu lagi, memang mungkin sudah sebuah skenario yang telah Allah tetapkan. Beberapa waktu sebelum pikiran-pikiran tersebut muncul, ada tekad dalam diri saya untuk mengaktifkan kelompok-kelompok mentoring yang sebelumnya sedang tidak aktif. Dan ternyata dengan izin Allah, saya dapat mengaktifkan kembali kelompok saya dengan efisiensi yang cukup baik. Mentoring pun berjalan seperti biasanya tanpa ada suatu firasat akan terjadinya sesuatu. Dan subhanallah… Materi yang rencanakan diberikan pada hari tersebut, sangat cocok dengan masalah yang sedang saya alami. Tanpa perkiraan sebelumnya. Yah… Sekali lagi, ke-MAHA ADIL-an Allah kembali dibuktikan di sini. Bahwa Allah mungkin ingin “bermesraan” dengan saya melalui cobaan-cobaan yang diberikan-Nya pada saya. Yang dengan cobaan itu mengingatkan saya akan adanya kasih sayang Allah yang harus senantiasa kita kejar.

Wah.. Nikmatnya ternyata punya kelompok mentoring. Bisa menjadi sarana secara tidak langsung bagi saya dan para pementor lainnya untuk bisa menjaga diri dan membantu menghadapi kondisi-kondisi yang berat. Tapi memang sepertinya kondisi ini hanya diberikan kepada orang-orang dikehendaki-Nya. Saya lihat ternyata tidak semua orang berkesempatan untuk dapat memiliki kelompok mentoring. Bagi sahabat-sahabatku yang sedang tidak memegang kelompok mentoring, saya doakan semoga kalian dapat segera kembali memilikinya. Untuk kembali merasakan keindahan dan kenikmatan kasih sayang-Nya yang diberikan secara tidak langsung. Wallahu’alam.. [PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s