Pengalaman Pertama Tugas…


Pekan ini atau tepatnya sejak tanggal 26 Oktober 2008 kemarin adalah waktu pertama kalinya saya melaksanakan tugas lapangan dari tempat saya bekerja. Memang bukan tugas lapangan seperti biasanya yang harus ke titik-titik tertentu untuk mengawasi dan melakukan konfigurasi awal perangkat base station. Tapi tugas lapangan ini adalah tugas presentasi sekaligus training kecil-kecilan sebuah produk kami di hadapan client yang notabene-nya merupakan perwakalian kota-kota di provinsi layanan operator tersebut.

Ada hal menarik yang membuat saya agak kikuk dalam menjalankan tugas ini. Jika hanya untuk menjalankan prosedur standar mungkin bisa saya lakukan dengan baik. Tetapi ketika harus melakukan presentasi dan training kecil-kecilan ditambah dengan integrasi terhadap jaringan yang sudah ada, ternyata saya harus memutar otak berkali-kali lipat lebih berat. Bukan apa-apa, karena posisi saya di sini adalah sebagai engineer yang baru satu bulan berinteraksi dengan perangkat dan belum mengikuti pelatihan khusus secara lengkap (baru sebagian-sebagian saat engineer asli dari vendor ini datang ke Indonesia). Belum lagi jika dilihat, ternyata ada sisi marketing dari kegiatan yang saya lakukan ini. Maka bertambahlah beban yang saya miliki.

Sesi pertama melakukan presentasi overview perangkat berjalan lancar. Meskipun ada beberapa pertanyaan yang diajukan client agak kurang saya mengerti, namun saya jawab melalui logika-logika berpikir teknis yang sudah dipelajari di kampus, akhirnya pertanyaan berhasil dijawab.

Nah, ketegangan muncul saat training dimulai. Karena training ini menggunakan mekanisme experiental learning, maka konfigurasi perangkat yang sudah saya buat dengan susah payah di awal harus dihapus lagi. Di sinilah masalah muncul. Saat mencoba mengintegrasikan perangkat di sisi pelanggan ke base station, komunikasi di antara keduanya tidak berjalan dengan baik. Dan memang inilah permasalahan yang dihadapi oleh engineer asli maupun saya saat melakukan hal ini. Dengan sedikit basa-basi saya meminta waktu kepada client untuk memeriksa sistem tersebut secara menyeluruh, dibantu oleh seorang researcher dari R&D sebuah operator. Dan ternyata berhasil. Kedua perangkat tersebut dapat berkomunikasi dengan baik.

Namun, ketegangan tidak selesai sampai situ. Saat konfigurasi berhasil, ternyata ada seorang karyawan dari operator tersebut mengatakan kepada saya “Mas Pras, kepala wilayah provinsi tadi minta untuk memasang perangkat di kantor wilayah. Mau ada demo lusa di hadapan jajaran manajemen wilayah provinsi. Jadi sistem kita siapkan hari ini, besok final cek dan instalasi di kantor wilayah, dan lusanya kita demo. Gimana Mas? Siap?” Kemudian saya jawab, “Oh gitu ya.. Demonya nanti gimana ya?”, dan dijawab lagi “Ya nanti perangkat tersebut disetup dan diintegrasikan dengan layanan-layanan yang tersedia di jaringan internal operator.”

Setelah dipikir-pikir, hati kecil saya mengatakan “Luar biasa, saya yang masih kelas teri begini harus menyiapkan perangkat untuk demo sistem yang taruhannya adalah nama baik vendor yang berdampak pada marketing perusahaan vendor”. Akhirnya dengan ditemani oleh seorang researcher tersebut, saya pun melakukan berbagai konfigurasi untuk menghadapi demo tersebut. Dan Alhamdulillah sistem siap.

Besoknya saya datang kembali ke kantor tersebut untuk mempresentasikan langkah-langkah sederhana melakukan konfigurasi kepada teknisi lokal di sana. Alhasil, mereka pun sedikit mengerti. Dan ternyata ada berita gembira yang saya dapatkan bahwa waktu demo diatur lagi. Menunggu kepastian, yang awalnya hari esoknya dan diundur jadi Senin. Akhirnya kami pun men-standby sistem sampai mendapatkan informasi lebih lanjut.

Alhamduillah… Meskipun demo tidak jadi, tapi saya tahu bagaimana rasanya bekerja di bawah tekanan. Ternyata banyak pelajaran yang Allah berikan kepada saya melalui tugas kerja ini. Pelajaran akan sikap profesionalisme yang harus ditunjukkan karena saat itu terdapat beban pikiran lain dalam diri saya. Pelajaran-pelajaran mengenai jaringan yang mungkin belum saya pahami saat kuliah dulu. Sehingga merefresh kembali ingatan terhadap pelajaran-pelajaran kuliah kemarin.

Hmm… Terima Kasih yaa Allah yaa Rabbi… Terima Kasih atas semua pembelajaran yang engkau berikan. [PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisah Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s