Siapkah Aku Melangkah ???


14 Agustus 2008.

Waktu berlalu… Tak terasa usia telah beranjak hampir 24 tahun, mendekati usia 25 tahun… Dan begitu banyak dorongan-dorongan untuk menggenapkan setengah dien dalam rangka mengikuti sunnah Rasul. Tidak hanya dorongan-dorongan internal terkait rencana hidup yang sudah disusun bertahun-tahun lalu, tetapi juga dorongan eksternal dari teman-teman, saudara, dan orang-orang terdekat dalam kehidupan saya.

Memang saat ini niat itu sudah ada, namun masih ada beberapa ganjalan untuk menunaikannya. Satu sisi ingin menyegerakan demi terjaganya kesucian diri dan meningkatnya produktivitas dalam beramal, namun di sisi lain merasa bahwa apa yang dimiliki belum sepenuhnya siap untuk menunaikannya…

Namun, di tengah kondisi seperti ini, munculllah keberanian untuk mulai menapaki tahap-tahap tersebut. Di awali dengan diskusi pada orang tua (khususnya Ibu) dalam rangka pengondisian terhadap segala kemungkinan. Dan akhirnya keluarlah “SIM” dari Ibu walaupun dengan berbagai kondisi syarat yang semakin saya bicara lebih lanjut dengan Ibu saya, semakin berat terasa kondisi syarat tersebut. Tentu saja hal ini menjadikan saya berpikir ulang. Dan suatu saat, dalam pembicaraan di telepon antara saya dan Bapak yang sering berada di luar rumah untuk menghidupi keluarga, tercetus dari mulut Bapak saya tersebut sebuah pertanyaan “Katanya mau nikah, Mas?”, padahal ketika itu kami sedang membicarakan mengenai perkembangan lamaran pekerjaan yang saya sampaikan pada beberapa perusahan. Sontak saja saya menjawab, “Emang kenapa, Pak? Ga apa2 kan, Pak?” dan saat itu bapak saya hanya menyuarakan sebuah senyuman.

Hmm… Hatiku kembali bergejolak… Sepertinya “SIM” sudah ditangan nih.. Tinggal mengondisikan orang tua untuk proses-proses berikutnya yang akan dilalui. Maklum untuk hal ini, saya akan melakukan hal yang tidak lazin dilakukan oleh orang lain. Saya mencoba untuk mencontoh sunnah Nabi dalam proses penggenapan setengah dien ini. Biasanya sih ada banyak cara… Cara-cara yang umum adalah kita mencari sendiri pasangan kita, dibantu oleh teman, atau dibantu oleh seorang guru ngaji yang memiliki kemampuan untuk itu. Di sinilah gejolak itu mulai muncul… Cara apakah yang akan saya lakukan? Satu sisi orang tua meminta saya untuk mencari sendiri, namun di sisi lain tidak ingin timbul fitnah yang akan menghilangkan keberkahan dalam proses ini.

Setelah kondisi syarat yang semakin berat, ditambah keinginan Seorang Ibu tersebut, semakin membuat saya berpikir kembali untuk melanjutkan prosesnya. Padalah sang guru ngaji sudah bersedia untuk mendampingi dalam menjalani proses ini. Hmm.. Tampak harus menguatkan lagi dakwah pada keluarga nih mengenai hal ini. Maklum, saya ingin pada saatnya nanti semua pihak sudah terkondisikan dan menerima dengan berbagai kondisi yang terjadi. Islami dan Berkah… Semoga… [PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Sang Bidadari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s