Pemimpin Ibarat Aliran Air


Dalam sebuah komunitas, sudah pasti terdapat pemimpin dan yang dipimpin. Namun, pernahkah kita berpikir kaitan secara psikologis antara pemimpin dan yang dipimpinnya tersebut? Pengalaman saya saat aktf dalam beberapa organisasi, ternyata ada kaitan yang sangat erat dalam kepemimpinan tersebut. Kaitan tersebut sering saya analogikan dengan aliran air dari hulu ke hilir, yang tentu saja melewati berbagai daerah aliran yang berbeda-beda kondisinya.

Pemimpin itu ibarat sumber mata air yang berada di hulu aliran. Aliran sungai itu ibarat birokrasi keorganisasian yang ada dalam komunitas tersebut, sedangkan hilir aliran ibarat “grass-root” komunitas tersebut yang menerima kebijakan sang pemimpin. Dan sumber mata air tersebut ibarat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh sang pemimpin.

Ketika mata air itu bersih dan jernih, maka air yang mengalir ke hilir pun akan tetap bersih, selama tidak ada kotoran pada daerah-daerah yang dilalui oleh aliran air itu. Dengan kondisi ini, sudah sangat pasti daerah yang berada di hilir sungai akan menerima air yang sama bersih dan jernihnya. Namun, adakalanya terdapat daerah yang memiliki “sampah” sehingga mengotori aliran air tersebut hingga ke hilir.

Rasanya dalam pengamatan saya sangatlah tepat analogi ini. Karena saya sering menemui bahwa kondisi nyata yang dipimpin alias rakyat alias masyakarat alias anggota tidak jauh berbeda dengan kondisi pemimpinnya. Ketika pemimpinnya sehat dan bersih, maka sehat dan bersih pula orang-orang yang ada di bawahnya. Kecuali, pada titik tertentu terdapat “kotoran” sehingga kesehatan dan kebersihan tidak dapat dirasakan oleh “grass-root”. Kotoran di tengah-tengah aliran air tersebut adalah “orang-orang” yang selalu menyimpangkan kebijakan pemimpinnya, sehingga “grass-root” lagi-lagi tidak dapat merasakan manfaat dari kebijakan sang pemimpin.

Oleh karena itu, sangat penting adanya pemimpin yang tidak hanya memiliki kekuatan daya rangkul yang sangat kuat, tetapi juga memiliki kekuatan untuk tetap menjaga kebersihan dirinya. Sehingga manfaat dari kepemimpinannya tersebut dapat dirasakan oleh masyarakatnya.

Mungkin akan timbul sebuah pernyataan kalau begitu pilih saja pemimpin yang bisa merakyat sehingga dapat mempengaruhi seluruh jalur birokrasi yang ada di bawahnya. Pernyataan tersebut memang betul, tidak ada salahnya, dan memang harusnya seperti itulah pemimpin kita. Namun, perlu diperhatikan di sini maksudnya pengaruh di sini adalah pengaruh pada kebaikan. Sehingga, ketika terdapat “kotoran” pada aliran airnya tersebut, sang pemimpin mampu segera membersihkan dengan kekuatan pengaruh dan kedekatannya pada Tuhan, Allah swt. Sehingga menjadi tanggung jawab kita untuk memilih pemimpin yang tidak hanya merakyat dan memiliki pengaruh, tetapi juga memiliki tekad perbaikan dan kedekatan kepada Allah yang sangat kuat. [PHM]

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hikmah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s