Berbagi Tiket Tram


Ada pemandangan unik yang saya temukan setelah beberapa bulan berada di salah satu kota pelajar di negeri Franz Joseph ini. Pemandangan yang lumrah terjadi di atas tram sebagai moda transportasi publik yang biasa saya gunakan untuk bepergian baik ke kampus, alun-alun kota, maupun pusat belanja (hehehe…). Pemandangan tersebut adalah ada kebiasaan para pengguna tran untuk berbagi tiket. Kok bisa… ? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Celotehan, Jejak Austria, Travelling | Meninggalkan komentar

Merantau menjadikan orang lebih bijak


Sejak kedatangan saya di Austria pada Oktober 2015, peringatan Maulud Nabi Muhammad saw di KBRI Wina, Austria, pada awal Januari 2016 lalu merupakan momen pertama bagi saya untuk dapat bertegur sapa atau bersilaturahmi dengan Masyarakat Muslim Indonesia di Austria. Pada saat itu, ustadz pemateri mencuplik sedikit kata mutiara dari Imam Syafi’i yang intinya berbunyi, “Merantaulah kalian, maka kebijaksaan diri akan kalian peroleh.”

Penasaran dengan nukilan kata mutiara tersebut, ditambah ada suatu kejadian yang mengingatkan kembali tentang kata mutiara tersebut, maka berselancarlah saya di dunia maya sehingga menemukan bahwa hal tersebut merupakan syair yang digubah oleh Imam Syafi’i. Berikut adalah syair lengkap tersebut.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Hikmah, Jejak Austria | Meninggalkan komentar

Polemik Jumlah SKS Kuliah S2 di Indonesia


Ini merupakan salinan tulisan saya yang ada di FB saya. Sengaja saya tulis juga di sini agar bisa menjadi salah satu persfekti lain dalam menanggapi terbitnya Peraturan Menteri No. 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Salah satu polemik yang muncul dari keluarnya Permen ini adalah mengenai jumlah SKS program Magister yang naik menjadi dua kali lipat dari 36 SKS menjadi 72 SKS. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Aktual, Pendidikan | Tag , , , , , | 6 Komentar

Memantaskan Diri….


Di dalam Surat ke-2 Al-Quran ayat terakhir, yaitu Al-Baqarah:286, tertulis penggalan firman Allah yang berbunyi “Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa..” yang jika diartikan secara bebas artinya adalah “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Hal ini berarti bahwa segala beban, tugas dan tanggung jawab yang kita pikul selama ini sangatlah sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang kita miliki saat ini. Hal ini menyiratkan pula bahwa Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Celotehan, Hikmah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Doa untuk Putraku


Tulisan ini barangkali sebuah goresan tinta dari seorang Jenderal yang bernama Douglas Mac Arthur. Tulisan ini biasa saya lihat pada suatu papan besar ketika setiap kali memasuki sebuah ruangan di Kompleks Masjid Salman ITB. Telah lama saya ingin menyalin tulisan ini, dan Alhamdulillah saya menemukan salinan tulisan ini dalam akun FB teman seangkatan saat SMA dan kuliah dulu.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi anak2ku kelak…  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Hikmah | Tag , , , | 1 Komentar

“Konsep Keseimbangan” dalam Sistem Komunikasi Wireless


Dalam dunia filosofi china kita mengenal istilah “Yin-Yang”. Salah satu kaedah yang terkandung dalam istilah ini adalah bahwa di dalam sisi gelap terdapat sisi terang dan sebaliknya, di dalam sisi terang terdapat sisi gelap. Hal ini menunjukan bahwa segala sesuatu pasti akan hadir secara berpasangan.

Dalam ajaran Islam, kita dapat melihat konsep keseimbangan ini melalui penciptaan alam semesta. Bersama dengan penciptaan Matahari, Allah pun menciptakan Bulan. Atau bersamaan dengan penciptaan siang, Allah pun menciptakan malam. Selain itu, jika kita merujuk pada Al-Quran Surat Al-Insyirah, 94:6-7, konsep keseimbangan inipun masih berlaku. Ayat tersebut menunjukkan bahwa bersama dengan kesulitan terdapat kemudahan dan bersama dengan kemudahan ada kesulitan.

Apakah itu berlaku juga pada bidang rekayasa?  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Sistem Komunikasi, Teknologi | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Obrolan ala Warkop : Kampanye Cerdas


Iseng melihat blog saya sendiri, ternyata terakhir saya menyapanya adalah tepat hampir setahun yang lalu. Dan khusus tentang politik, terakhir kalau tidak salah tahun 2008. Mumpung ada ide, saya coba untuk menuangkan kembali pikiran saya. Kali ini, terinspirasi dari obrolan-obrolan santai dengan beberapa teman tentang kampanye dalam setiap pemilu. Tampaknya sudah saatnya kali ini para juru kampanye berkonsentrasi menyuarakan rencana kerja mereka saat terpilih nanti, tanpa perlu menjatuhkan lawan-lawannya. Ada satu adagium menarik dalam bahasa sunda mengenai kampanye yang perlu diperhatikan, yaitu “Kahartos, Karaos.”

Topik ini muncul dari kegelisahan saya pribadi dan beberapa teman ketika mengamati para calon pimpinan atau pimpinan terpilih dalam mensosialisasikan dirinya. Ada di antara mereka yang menyampaikan slogan-slogan, tapi tidak terlihat apa rencana kerja mereka selama memimpin ketika terpilih. Ada di antara mereka yang menyampaikan program-program prioritasnya, tapi ternyata tidak menyadari bahwa banyak hal yang dianggap negatif muncul selama kepemimpinannya. Ada juga mereka yang bertarung dengan cara tidak sehat, misalnya dengan menyampaikan keburukan/kelemahan orang lain.

Jika memang ada kelemahan dalam rival yang menjadi lawannya, jadikanlah itu sebagai sumber kekuatan untuk sosialisasi, namun tetap sampaikan apa rencana kerja yang akan menjadi program utamanya ketika memimpin kelak. Jika ada ekses negatif dari pemimpin sebelumnya dan ybs mengajukan diri kembali, maka jadikan ekses negatif itu sebagai inspirasi rencana kerja selama memimpin kelak dengan tetap juga menyampaikan terobosan kreatif dan unik yang dimilikinya.

Saatnya sekarang memulai mencerdaskan masyarakat dengan kampanye cerdas. Kampanye tanpa money politic dan kampanye yang mengedepankan rencana kerja selama memimpin. Biar masyarakat sendiri yang menilai.. Jika ada track record yang kurang baik, biarlah masyarakat sendiri yang menilainya, tidak perlu disampaikan sebagai materi kampanye. Jadilah seperti anak kecil yang bebas bermimpi membangun hidupnya, namun dengan kedewasaan jadikan mimpi itu menjadi mudah dan sederhana. “Kahartos, Karaos”

Hmm, merasa tidak sistematik gini tulisannya. Ya gitu lah.. namanya juga obrolan warkop. Mudah2an ada yang bisa memahami apa maksud tulisan saya. Saya kurang terbiasa untuk hal perpolitikan seperti ini.

Bagaimana menurut anda?

Dipublikasi di Celotehan, Politik | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar