Merenungi Kembali Sebuah Cita-Cita


Bismillahirrahmanirrahim…
Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki cita-cita. Disadari ataupun tidak, sejak kecil kita pasti memiliki cita-cita. Dengan bahasa lebih sederhana, cita-cita ini bisa kita artikan sebagai sebuah bentuk keinginan yang muncul dalam alam pikiran untuk dapat diraih pada suatu saat kelak. Tidak peduli apakah cita-cita itu kecil atau besar. Tidak peduli cita-cita itu terasa berat ataupun ringan. Yang menjadi permasalahan mengenai cita-cita tersebut bukanlah pada hal-hal tersebut di atas, melainkan pada seberapa kuat kita menggenggam cita-cita tersebut dan seberapa keras kita berusaha untuk menggapai cita-cita tersebut. Kontribusi kita mengenai cita-cita tersebut, bukanlah tercapai atau tidaknya cita-cita tersebut, melainkan lebih pada kekuatan kita dalam usaha menggapai cita-cita tersebut.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran, 3:159)

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut, 29:69)

Kedua ayat di atas rasanya cukup bagi kita untuk semakin menguatkan tekad dan usaha dalam menggapai satu atau lebih cita-cita yang telah kita canangkan. Itulah kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang sukses di dunia ini. Mereka berani untuk bermimpi, dan berani pula untuk menggapainya dengan berbagai tantangan yang kelak akan dihadapinya. Sebagaimana ungkapan seorang Ulama di Mesir, Hasan Al-Banna, ”Kenyataan mu di hari ini adalah mimpi mu di hari kemarin”. Juga suri teladan kita Rasulullah Muhammad saw, juga tercipta sebuah impian ketika sedang membuat parit dalam persiapan menghadapi Perang Parit. Saat terpercik sebuah bunga api ketika memukul batu yang sangat besar , beliau berkata ”Percikan api ini menandakan suatu saat kita akan dapat menaklukan dua buah kekuasaan terbesar saat itu yaitu Romawi dan Persia”. Itulah kekuatan-kekuatan impian yang menjadikan kita lebih memiliki gairah atau semangat dalam menjalani hidup ini.

Lantas, bagaimana dengan kita sekarang? Sebuah pertanyaan yang sepertinya layak kita lontarkan kepada diri kita sendiri. Sudahkah kita memiliki impian tersebut? Sudah seberapa banyak langkah yang kita ayunkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut? Atau, jangankan keberanian untuk menganyunkan langkah, untuk memiliki impian saja kita tidak berani melakukannya? Sungguh, sangat disayangkan ketika yang terjadi adalah kondisi yang tersebut. Padahal Allah swt telah menganugerahkan kepada akal pikiran dan nurani untuk dapat melakukan itu semua.

Apa gerangan yang menjadikan kita lemah untuk dapat melakukan hal tersebut?
Apakah perasaan tidak mampu?
Apakah perasaan bahwa kita adalah orang yang lemah?
Apakah perasaan bahwa kita adalah orang kecil?
Sampai kapan kita akan memiliki perasaan tersebut?
Ragukah kita akan rahmat Allah yang telah dijanjikan-Nya pada kita?

Semakin kita ragu akan semua itu, semakin tidak akan ada arti keberadaan kita di dunia ini. Karena hidup itu adalah perjuangan. Allah tidak menilai besar kecil kesuksesan, tapi besar kecilnya usaha kita untuk mewujudkan cita-cita itu.
Semakin kita menunda-nunda langkah menuju sebuah cita-cita kesuksesan, semakin tertunda pula kesuksesan itu datang pada kita.
Sebuah kesuksesan besar pada hakikatnya berawal dari kesuksesan kita dalam mengayunkan langkah-langkah kecil menuju sebuah cita-cita.

Mulailah untuk berani bermimpi…
Mulailah untuk berani mengambil langkah menuju impian tersebut…
Mulailah untuk berani melawan berbagai gangguan yang muncul dalam menggapai impian itu…

Salam Sukses…!!!

Wallahu’alam…

5 Tanggapan

  1. orang bijak bilang, ada tiga prinsip dalam hidup ini, citacita diri, citra diri, dan harga diri, semua itu akan didapt ketika cita cita terlaksana..

  2. Alhamdulillah.

  3. apa aku bsa meraih semua ini yang ku ingin kan dari dulu sampai skarang sangat ku harap kan dan ku gapai kan semua hal sendiri disini menjalani hidup ini semua hal tlah ku laku kan dan kurasakan

  4. cita-cita yang ideal itu apa ya? dalam artian tidak sekedar jangka pendek ataupun perihal harta tahta..

    • Cita-cita yang ideal adalah cita2 yang menghantarkan pada keselamatan di akhirat sebagai akibat selamatnya kita di dunia. Seperti yang Anda bilang, cita2 tidak hanya jangka pendek atau tahta dan harta, tapi bertemunya kembali kita dengan sang pencipta dalam wajah yang berseri2.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.408 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: