Hidayah di Negeri Kincir Angin

Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak menyentuh blog ini, akhirnya sekarang ku buka lagi halaman admin dari blog ini menuliskan hal-hal yang sempat mampir dalam pikiran saya untuk menjadi sebuah tulisan. Walaupun saat ini sedang berada dalam detik-detik injury-time, tapi ya menulis aja lah.. Mengalihkan stress malas dulu sesaat.

Malam 1 Ramadhan 1432H kemarin, merupakan malam yang sepertinya sangat berkesan bagi seorang muallaf berkebangsaan Belanda. Pada saat itu adalah momen2 bersejarah bagi dirinya karena dia telah melepaskan semua belenggu dalam hidupnya dan menyerahkan semuanya hanya kepada Allah swt. Kesaksian bahwa Allah satu2nya illah dan Rasulullah muhammad saw sebagai utusan Allah dia ucapkan dalam bahasa Arab dan Belanda di hadapan puluhan jamaah Masjid Maroko di dekat tempat tinggal saya saat ini di Belanda.

Saat itu saya langsung berpikir, di tengah negeri yang sangat gersang dengan syiar2 Islam ini dan bahkan sempat terjadi ketegangan horisontal antara penduduk muslim dan non-muslim, ternyata cahaya Islam masih ada dan menyelinap ke dalam hati sanubari seorang warga Belanda ini (sayang, saya lupa menanyakan namanya). Dan benar janji Allah swt bahwa Dia akan menurunkan hidayah kepada siapa yang dia kehendaki tanpa ada satupun yang dapat menghalanginya. Dan memang begitulah fitrah manusia yaitu condong pada kecenderungan, hanya kesombongannyalah yang membuat jauh dari kebenaran.

Akankah kita dapat mempertahankan hidayah yang telah Allah titipkan pada diri kita hingga akhirnya nanti, sehingga kita mati dalam kondisi husnul khatimah? Semoga saja Allah senantiasa membimbing kita berada di jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang2 yang dirodhai-Nya.. Amiin..

Hobby Baru

Tak terasa, sudah hampir 7 bulan saya berada di Negeri Kincir Angin untuk menimba ilmu sejak Agustus 2010 kemarin. Namun, di saat waktu yang tak terasa ini, ternyata ada juga hobby kebiasaan baru dalam diri saya yang tak sadar muncul. Kebiasaan baru yang biasa tak pernah jarang saya lakukan ketika berada di Indonesia. Ya.. kebiasaan menonton film. Walaupun adakalanya suka berada di depan TV di ruang keluarga di rumah di Indonesia, namun sering ditonton adalah sajian berita, yang walau saat ini sulit mencari mana yang benar dan mana yang salah.

eh, bukan acara berita yang mau saya bahas di sini. back to the topik “hobby baru.” Yup itulah kira2 hobby saya di sini saat ini. Di saat jenuh karena tugas akademik dan penelitian kian menumpuk, perhatian teralihkan pada suatu situs yang menyajikan koleksi film2 Indonesia. Dari mulai Sang Murabbi, Laskar Pelangi, Garuda Di dada ku, Ketika Cinta Bertasbih, Sang Pemimpi, dsb. Ga apa2 lah meski ketinggalan zaman juga. Yang penting ketika suatu saat ngobrol dengan temen2 ttg suatu film, saya tidak hanya menjadi kambing congek.

Yup.. Menonton film dengan cara streaming dari suatu situs menjadi aktivitas sela saya saat ini. Aktivitas yang sulit dilakukan di Indonesia saat ini karena bandwidth internet yang masih sangat terbatas dibandingkan dengan bandwidth yang tersedia di sini (seperti gambar di bawah ini). Semoga saja kelak bandwidth internet di Indonesia mencukup untuk melakukan streaming-streaming seperti, meski juga harus ada tujuan yang lebih bermanfaat secara umum seperti e-learning. Semoga pemerintah dengan cakupan rakyat yang sebanyak 200an juta penduduk ini dapat mencari solusi terbaik untuk mengembangkann teknologi informasi dan telekomunikasi di Indonesia.

  lho, kok jadi nyambung ke sini. Ga apa2 lah.. sambung2in aja… hihihi…

Perjuangan untuk hasil terbaik

Hidup di negeri yang memiliki empat musim menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang terbiasa hidup di daerah tropis, terutama bagi saya. Tidak seperti di daerah tropis yang memiliki iklim cukup stabil, daerah empat musim memiliki iklim yang selalu berubah setiap tiga bulan dengan perubahan suhu yang ekstrem. Kadang2 berada pada suhu di bawah nol derajat, ada kalanya juga berada suhu belasan bahkan mungkin di atas 30-40 derajat. Tidak terkecuali di Belanda, tempat saya menuntut ilmu saat ini.

Di Belanda, pada saat datang, saya langsung dihadapkan pada suhu yang berada pada kisaran 10-15 derajat celcius. Hal ini terjadi karena saya datang di penghujung musim panas, memasuki musim gugur. Belum lagi hembusan angin laut yang membawa hawa dingin menjadikan suhu yang terasa oleh tubuh lebih rendah daripada suhu yang terukur di termometer. Saat memasuki musim dingin, “perjuangan” pun menjadi terasa sangat berat karena suhu yang terukur di termometer berada pada kisaran -10 sampai dengan 3 derajat celcius dengan pemandangan serba “putih” karena tumbuhan2 hijau tidak berbunga. Kondisi ini membuat keinginan untuk beraktivitas menjadi turun. Dan di sinilah “perjuangan” saya sebagai bangsa daerah tropis mencapai puncaknya.

Akan tetapi, kondisi tersebut menjadi berbeda pada saat sudah memasuki musim semi. Pada masa-masa transisi dari musim dingin ke musim semi, pohon2 yang tadinya kering tidak berdaun dan berbunga bak pohon yang mati mulai menunjukkan kembali kehidupannya. Kondisi ini ditandai  dengan tumbuhnya tunas-tunas pada ujung-ujung ranting pepohonan tersebut, yang berarti secercah keindahan akan kembali muncul. Belum lagi orang2 pribumi yang mulai menanam tunas-tunas bunga tulip di halaman rumahnya untuk menikmati keindahannya di musim semi ini. Geliat tumbuhnya tunas-tunas pepohonan yang seolah otomatis mengikuti ritme kehidupan, tidaklah terjadi dengan sendirinya. Melainkan ada “sesuatu” yang mengaturnya menjadi sangat harmonis dan beraturan. Itulah ciptaan Allah, Tuhan yang Maha Esa, Rabb semesta alam.

Setelah selama kurang lebih 3 bulan orang-orang yang ada di Belanda berjuang dalam menghadapi kerasnya musim dingin, namun pada puncak musim semi ini mereka akan kembali menyerbak senyuman karena menyaksikan keindahan taman tulip yang hanya hidup di musim semi ini. Dan pada musim panas nantinya mereka “merayakan” nikmatnya pancaran cahaya matahari yang menghangatkan kehidupannya.

Itulah kehidupan kawan.. Ada kalanya kita akan mengalami perjuangan yang sangat berat sehingga seolah tidak ada daya untuk bertahan namun kita harus bisa tetap hidup. Namun, setelah itu kita akan merasakan indahnya hasil dari perjuangan itu yang bisa jadi memang sudah bisa kita bayangkan sebelumnya, atau bahkan belum bisa dibayangkan sama sekali. Namun yakinlah, bersama kesukaran itu akan kemudahan. Sebagaimana janji Allah dalam Surat Al-Insyirah, 94:5.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan

[PHM]

Menulis…

Menulis? Ya.. Aktivitas yg mulai sy lakoni sejak saya kelas 2 SMA ini ternyata memiliki makna tersendiri bagi saya pribadi. Ketika tahun lalu sy melihat2 file2 arsip tulisan saya di komputer, tiba2 saya tersenyum sendiri dan bertanya2, “kok bisa ya dulu nulis seperti ini, secara lugu banget saya saat itu.” Dan ketika sekarang2 sy melihat tulisan2 yg ada di blog dan notes facebook sy, ternyata ada semacam “gelora” baru dalam diri ini. Ya, tulisan itu seperti “berbicara” pada saya “Pras, lihat nih.. ini tulisan kamu lho dulu..” Tulisan2 itu seperti memberi semangat dan inspirasi bagi saya ketika sedang lesu untuk bangkit menjadi cahaya bagi kehidupan. Ya, jika tulisan itu belum menjadi manfaat bagi khalayak, minimal bisa menjadi manfaat bagi diri saya sendiri untuk bercermin siapakah diri saya ini sebenarnya.

Tulisan yg pertama kali saya buat adalah tulisan untuk mengisi sebuah rubrik dalam majalah yg akan dikeluarkan oleh kerohisan SMA sy ketika itu. Ketika itu, tulisan yg sy kirimkan adalah ttg rahasia ilmu pengetahuan di bumi ini. Itu tulisan pertama sy dimuat di media umum, meski baru lokal SMA. Namun, ternyata tidak sampai di situ. Setelahnya (sekitar tahun 2002) sy pun pernah menulis sebuah artikel lepas, ya sebut sj begitu, krn sy pun tidak tau bentuk tulisan apa yg saya buat ketika itu, hanya ingin menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Dan ketika iseng2 meminta Mbah Google untuk mencari persebaran nama sy di internet (PD amat ya..), sy kaget ternyata tulisan itu secara tidak sadar sudah tersebar di beberapa blog yg sy sendiri tidak tau siapa pemilik blog itu. Tapi ya ga apa2, semoga tulisan itu bisa memberi manfaat bagi semua orang.

Ada lagi pengalaman lain, yg jika skrg sy pikir2, kok bisa ya seperti itu.. Alkisah, ketika itu seorang guru Bahasa Indonesia saat saya kelas 3, menawarkan kepada semua murid yg ada di kelas untuk mengirimkan tulisan dalam rubrik suara pelajar di koran Pikiran Rakyat (PR). Kalau tidak salah dulu itu temanya ttg Kenaikan Harga Listrik. Dan apa yg terjadi kawan..?? Tanpa disangka tulisan sy itu dimuat oleh PR. Ini merupakan pengalaman pertama sy dimuatnya tulisan sy sebuah media massa besar. Namun sayang, saat sy mencoba mengirimkan kembali tulisan untuk edisi berikutnya malah tidak dimuat (hehe.. benar2 kebetulan berarti).

Ada sebuah cita2 yg ingin saya capai pada suatu saat, yaitu bisa menerbitkan sebuah buku. Cita2 itu hampir mewujud ketika saya lulus kuliah. Ketika itu saya pernah ditawari untuk menjadi co-writter  sebuah buku bertema teknologi telekomunikasi. Namun, entah kenapa ketika itu saya “agak malas” untuk menyelesaikannya. Sampai akhirnya sy tidak melanjutkannya.

Ya.. Menulis memang bukan perkara yg mudah. Banyak orang yg lebih memilih banyak bercerita ketimbang menulis. Hal itu tidak salah. Namun, dengan menulis ada kelebihan lain yg tidak didapat, yaitu memori untuk setiap pikiran yg muncul menjadi tahan lama. Jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib r.a, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” [PHM]

sumber gambar : http://ramlannarie.wordpress.com

Plastik sebagai Penghantar Listrik

Pagi tadi, saat saya membaca artikel2 sains yg dimuat di kompas.com, ada sebuah artikel yg membangktikan “ruh” pengetahuan sy dalam bidang elektronika, meskipun aslinya saya “bergerak” di bidang telekomunikasi. Tapi, ga apa2 lah, masih satu rumpun. (hehe..).

Artikel di kompas elektronik itu membahas mengenai hasil penelitian yg telah berhasil “menyulap” plastik yg biasanya sebagai isolator, kini menjadi konduktor. Bahkan diklaim memiliki konduktivitas yg lebih baik daripada konduktor2 yg telah ada di pasaran. Penelitian ini berhasil dikembangkan di Australia oleh Profesor Paul Meredith dan Profesor Ben Powel yang berasal dari University of Queensland serta Profesor Adam Micolich dari University of New South Wales.

Proses pembuatan konduktor dari plastik itu adalah dengan menempatkan film logam tipis di atas lembaran plastik yang disatukan pada permukaan polimer dengan menggunakan sinar ion. Metode sinar ion ini ternyata dapat digunakan untuk membuat film plastik yang murah, kuat, lentur, serta memiliki kemampuan untuk mengalirkan arus listrik.

Meskipun dalam industri mikroelektronik ini teknik sinar ion sudah digunakan secara luas untuk menentukan daya konduksi semikonduktor seperti silikon. Namun upaya untuk menerapkan proses serupa pada film plastik yang dilakukan sejak 1980 baru bisa membuahkan hasilnya tahun ini.

“Kami telah berhasil menggunakan sinar ion untuk menyesuaikan sifat film plastik agar dapat menghantarkan listrik seperti halnya pada logam yang dipakai pada kabel listrik,” terang Meredith. Selain itu, menurut Meredith, teknik sinar ion itu juga memungkinkan film plastik berfungsi sebagai superkonduktor serta mengalirkan arus listrik tanpa tahanan jika didinginkan sampai suhu tertentu.

Semoga saja, hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para peneliti dalam negeri untuk mengembangkan sumber daya lokal menjadi suatu hal yang bernilai manfaat tinggi dan ekonomis. [PHM]

sumber : Sains Kompas

Bij eenmaal de tijd van Maastricht, via Amsterdam (Deel 1)

“Bij eenmaal de tijd van Maastricht, via Amsterdam…”

ya begitulah kira-kira istilahnya dalam bahasa Belanda yg artinya kurang lebih artinya “Suatu ketika di Maastricht, melewati Amsterdam (bagian pertama)”. Yup.. ini lah “perjalanan jauh” saya pertama kali yg tujuannya hanya untuk jalan2 sejak menginjakkan kaki pertama kali di negeri kincir angin ini (a.k.a Belanda) 18 Agustus 2010. Sebelumnya pernah juga ada “perjalanan jauh” serupa yg jaraknya juga cukup jauh yaitu ke Utrecht dan Amsterdam. Tapi kala itu hanya untuk bersilaturahim dengan saudara-saudara seiman (muslim) dalam acara buka bersama keluarga muslim eropa.

Sebenarnya perjalanan ini serba “kebetulan”. Kebetulan lagi ada yg nawarin tiket murah kereta untuk keliling Belanda selama 24 jam. Kebetulan pikiran sedang penat. Kebetulan ada teman lama yg ingin dikunjungi.

Yap.. kebetulan… Pada awalnya saya memang belum ada niat kuat untuk melakukan traveling dalam masa studi ini. Baru mulai akan memikirkan traveling ini kalau penelitian sudah menunjukkan hasil yg sedikit memberi nafas lega. Yg sudah barang tentu itu pasti akan terjadi di akhir2 masa studi ini. Namun, karena kondisi kala itu sangat genting. Pikiran sangat penat, stuck dan susah memunculkan kembali ide2 untuk mengembangkan penelitian. Dan atas saran orang2 special yg ada di Indonesia, akhirnya alternatif untuk jalan2 jauh pun mulai dipikirkan.

Ceritanya, berawal dari adanya seorang pelajar Indonesia di sini yg menawarkan tiket murah itu melalui milis PPI di sini. Setelah memperoleh informasi yg lengkap, ternyata masa berlaku tiket itu berdekatan dengan momen2 genting dalam dunia akademik yg penuh dg kepenatan. Setelah melihat situasi, tiketnya bisa digunakan setelah fase genting itu “selesai.”

Itu adalah fase penuh “tekanan” yg saya alami selama ada di Belanda ini. Hari Senin dihadapkan dengan pertemuan bersama pembimbing tesis di sini untuk membicarakan perkembangan tesis, Hari Rabu dihadapkan dengan 2 ujian akhir, dan hari jumat juga tidak luput dengan tekanan itu. Ada pula ujian di hari jumat itu. Lengkaplah sudah “penderitaan” pada seminggu itu. Bahkan minggu2 sebelumnya yg sudah pasti juga tersita karena harus mempersiapkan semua bahan untuk kegiatan pada hari itu.

Setelah menelepon teman yg akan dikunjungi tersebut apakah punya waktu pada akhir pekan itu. Dan ternyata bisa. Akhirnya diputuskanlah untuk melakukan perjalanan penyegaran pada akhir pekan itu. Belum tau akan ke mana. Namun, diputuskan untuk bertemu dulu di Stasiun Amsterdam Centraal. Dari situ kemudian diputuskan untuk jalan2 dulu di sekitar Dam Square dan Museumplein Amsterdam, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Maastricht, kota di ujung selatan Belanda yg berbatasan dengan Belgia.

(.. bersambung…)

2010 in review

Ya lumayanlah untuk pemula mah… :)

———————————————————–

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is on fire!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,600 times in 2010. That’s about 6 full 747s.

In 2010, there were 18 new posts, growing the total archive of this blog to 62 posts. There were 23 pictures uploaded, taking up a total of 21mb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was May 27th with 60 views. The most popular post that day was Untuk Apa dan Siapa kita hidup?.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, google.co.id, id.wordpress.com, search.conduit.com, and dago2.com.

Some visitors came searching, mostly for ranca buaya, rancabuaya, nikmat allah, antara dua pilihan, and balai kota bandung.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Untuk Apa dan Siapa kita hidup? May 2010
9 comments

2

Sisi Pantai Rancabuaya July 2008
14 comments

3

Bimbang antara dua pilihan February 2009
2 comments

4

Nikmat Allah yang ‘unik’ March 2009

5

My Profiles July 2008
11 comments

Review Makalah dan Tafsir Al-Quran

Tergelitik oleh status yang saya buat sendiri di Facebook malam tadi. Pada saat itu saya sedang melakukan penelusuran beberapa jurnal ilmiah untuk menguatkan pemahaman saya dalam melakukan penelitian dan tugas yang sebenarnya sedang malas dikerjakan. Pada saat membaca jurnal-jurnal ilmiah itu saya teringat sebuah mekanisme untuk menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Quran. Dan ternyata keduanya memiliki mekanisme yang identik.

Ketika kita mencoba untuk memahami suatu topik pada sebuah jurnal ilmiah atau biasanya disebut dengan paper, biasanya kita akan mencari dan merujuk paper lainnya pada saat kita tidak memahami suatu poin pada topik itu. Dan itu terus dilakukan secara bertingkat untuk bisa memahami topik tersebut secara keseluruhan. Misal, ketika kita mencoba untuk memahami suatu topik pada paper A, maka kita akan merujuk pada paper B. Ketika pada paper B ini pun belum menemukan jawaban yang memadai, maka kita akan merujuk lagi pada paper lainnya, katakanlah paper C. Dan itu terus dilakukan sampai kita menemukan inti pengetahuan dari topik paper itu.

Begitupun dengan memahami Al-Quran yang merupakan petunjuk hidup seorang muslim. Ketika kita mencoba untuk memahami suatu ayat dalam Al-Quran, maka mekanisme yang dilakukan adalah kita mencari ayat lain dalam Al-Quran yang dapat menjelaskan ayat tersebut, atau mencari sebuah hadits yang dapat menjelaskannya, atau jika tidak ditemukan maka kita merujuk pada ijtihad para ulama.

Begitulah kira-kira kemiripan mekanisme review jurnal ilmiah dengan penafsiran ayat-ayat dalam Al-Quran. Sehingga, sebagai ilmuwan muslim yang benar-benar beriman, maka dia akan menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Quran dengan mekanisme yang tadi disebutkan di atas untuk menguatkan pondasi dasar dalam pemahamannya sehingga memiliki landasan yang kuat. Sebagaimana yang dia lakukan dalam memahami jurnal-jurnal ilmiah agar hal-hal yang dia kemukakan menjadi berdasar. [PHM]

Pribadi yang Tak Punya Kepribadian

Seorang pria yang hendak menikah, mengeluh pusing tujuh keliling karena harus menuruti  kemauan keluarga besarnya yang beraneka ragam. “Tapi ketika saya tanya maunya sendiri apa, dia malah bingung,” tutur Prof. Bambang W. Sugiharto. Bambang menuturkan anekdot tentang rekannya tadi, dalam kuliah umumnya “Kekerasan dan Agama” Kamis malam (02/12) lalu. Anekdot tersebut adalah cermin lemahnya individualitas masyarakat Indonesia. Menurut Guru Besar Fakultas Filsafat UNPAR tersebut, lemahnya individualitas turut menyebabkan maraknya kekerasan di Indonesia saat ini.

Mental bangsa Indonesia menurut Bambang, pada dasarnya adalah paternalistik. Masyarakat terbiasa mencari perlindungan dan mengikuti kemauan kelompok. Mental ini diperparah lagi dengan kekangan negara untuk berekspresi selama masa Orde Lama dan Orde Baru. Akibatnya, individualitas dalam bentuk keyakinan untuk mengambil pilihan dan tanggung jawab pribadi, sangat lemah. Orang Indonesia kata Bambang, umumnya hanya berani berbuat dalam kelompok.

Kondisi ini menimbulkan masalah setelah reformasi. Memang tidak ada lagi kekangan untuk berekspresi. Orang pun menjadi kritis dan mudah memprotes berbagai hal. Mulai muncul kesadaran akan hak-hak individu. Sayangnya, individunya tidak punya individualitas. Keinginan untuk bebas tanpa kemampuan mengambil sikap pribadi,  akhirnya mendorong orang untuk kembali mencari keamanan dalam kelompok.

Muncullah berbagai kelompok baru seperti aneka sempalan keagamaan dan geng motor. Muncul pula kelompok yang memperkuat identitas lama seperti agama, suku, bahkan kampung. Pengukuhan identitas baru maupun lama ini, menimbulkan berbagai gesekan di antara kelompok-kelompok tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang berpotensi melahirkan kekerasan.

Selain lemahnya individualitas, orang mencari keamanan dalam kelompok karena tidak percaya pada sistem. Padahal menurut sosiolog kondang Inggris Anthony Giddens, masyarakat modern hanya berjalan karena terbentuknya kepercayaan pada sistem, bukan bergantung pada orang per orang. Institusi-institusi negara kita selama bertahun-tahun memang digerogoti korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Pembangunan sistem dan individualitas yang kokoh, lanjut Bambang, biasanya butuh puluhan bahkan ratusan tahun. Amerika dan negara-negara Eropa adalah buktinya. Namun, Indonesia tidak punya kemewahan waktu sebanyak itu. Dalam usaha memperpendek jarak tempuh tersebut, “Kita perlu belajar dari China dan Korea,” tegas Bambang. Kepemimpinan mereka yang otoriter dan keras sebenarnya banyak membantu percepatan tersebut. Sayangnya ujar Bambang, di saat belum memiliki sistem yang kokoh, Indonesia justru kehilangan kepemimpinan seperti itu.

Bambang sendiri mengaku tidak tahu apa solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Namun Beliau melihat bahwa menguatnya kekritisan individu merupakan tanda perbaikan bangsa ini. Kekritisan tersebut antara lain tampak dari keinginan untuk melakukan kontrol bersama dan tuntutan akan public accountability. “Saya ingin berharap, bahwa kekerasan yang terjadi saat ini hanyalah ekses saja,” pungkas Bambang.

disclaimer : tulisan ini adalah artikel yg dicuplik dari situs YPM Salman ITB.

Perjuangan Kami Bagi Anda

Seperti biasanya, keisengan yang memunculkan ide untuk kembali menulis. Inspirasi ini muncul ketika membuka file-file presentasi pelatihan yang pernah saya lakukan sekitar 2 tahun lalu. Kala itu, hampir semua partai politik sedang menggiatkan diri melakukan persiapan untuk menghadapi perhelatan PEMILU 2009. Bersiap memanaskan kembali mesin-mesin politiknya untuk merebut suara pemilih pada kantong-kantong daerah yang potensial. Dari sinilah cerita dimulai kawan…

Kala itu saya ditawari untuk menjadi Tim Support SDM dalam upaya pemenangan pemilu sebuah partai poltik. Karena saya anggap partai ini adalah satu-satunya partai yang masih saya anggap lebih baik daripada yang lain, maka saya pun menerima tawaran tersebut. Tugasnya adalah melakukan semacam “Training Motivasi” bagi kader2nya di tingkat kecamatan dan kelurahan. Sehingga mau tidak mau, saya harus siap jika suatu saat ditugaskan keliling Bandung (meski tidak semuanya). Bahan-bahan pun mulai dipersiapkan agar materi-materi yang disajikan menjadi standar untuk semua daerah.

Saat akan membuat file presentasi tersebut, saya kebingungan mencari-cari bahan yang membakar semangat para “mesin-mesin politik” tersebut sekaligus menjadikan mereka tetap “menapak” di bumi ini dengan penuh kesahajaan dalam bergerak. Akhirnya ketemulah sebuah kalimat yang cukup mewakili tujuan tersebut.

Jika Anda sepakat dengan kami, dukunglah kami…
Jika Anda belum mengerti kami, carilah info tentang kami…
Jika Anda menolak kami, kami akan tetap memperjuangkan Anda…

Bagi saya kalimat ini cukup mewakili semangat itu. Semangat untuk mengabdikan diri bagi bangsa ini. Semangat yang dilandasi atas dasar ketulusan dalam berjuang. Tidak mengharapkan balasan dan pujian karena semua landasan perjuangan telah ada dalam sebuah grand design yang tersusun rapi. Sebuah grand design yang telah jelas tujuan dan capaiannya.

Semoga saja ruh dari semangat yang muncul pada saat komunitas ini mulai bergerak dari bawah masih sama dan berhujam kuat dalam diri para anggotanya pada saat ini, saat berbagai capaian dan kemenangan telah diraih. Tidak surut meski ternyata telah jelas status setiap penumpang yang ada dalam gerbong perjuangan tersebut. Tidak surut meski ketidakadilan terus menerpa. Tetap berjuang untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sebagai pemimpin dengan penuh kesahajaan, “Jika Anda menolak kami, kami akan tetap memperjuangkan Anda…”  )8(   [PHM]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.